LAHIRNYA DISPSIAD
Pemanfaatan bidang ilmu Psikologi sebagai ilmu pengetahuan terapan (applied science) dalam kehidupan militer di Indonesia sudah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda. Pimpinan tentara Belanda telah menggunakan psikologi dalam rangka seleksi/penyaringan calon-calon prajurit KNIL. Dinas Psikologi di lingkungan TNI AD merupakan kelanjutan dari Leger Psychologiesche Dienst (LPD), yaitu Dinas Psikologi Tentara KNIL yang menyelenggarakan seleksi calon prajurit khususnya Perwira.

Penandatanganan serah terima jabatan dari Major Kamhorst (kepala LPD) kepada Letnan Kolonel Dr. Soemantri Hardjo  Prakoso (Kepala Lembaga Psychoteknik Tentara yang pertama) disaksikan Mayjen Engels pada tanggal 15 Juni 1950 di Jl. Panorama Bandung.

Pada tanggal 15 Juni 1950 dilaksanakan serah terima jabatan dari Mayor Kamhorst, selaku Kepala LPD kepada Letnan Kolonel Dr. Soemantri Hardjo Prakoso atas nama staf ”A” Angkatan Darat bertempat di jalan Panorama Bandung (Kesatrian Secapa TNI AD sekarang).

Kesatrian Dispsiad yang pertama pada tahun 1950. Sekarang gedung ini adalah kantor Secapa TNI AD yang berkedudukan di Hegarmanah, Bandung.

 

Sejak saat itu LPD berganti nama menjadi Lembaga Psychoteknik Tentara (LPT). Sehubungan dengan dibubarkannya Staf ”A” Angkatan Darat pada tanggal 30 September 1950, LPT diserahkan kepada K.A.S.A.D dan pada tahun 1951 namanya berganti menjadi Lembaga Psychoteknik Angkatan Darat disingkat L.Ps.A.D.

Upacara serahterima LPD (Dinas Psikologi Tentara KNIL) kepada LPT, tgl 15 Juni 1950 di lapangan LPD KNIL.Sekarang Secapa TNI AD.

Pada Tanggal 17 Januari 1952 kantor L.Ps.A.D. dipindahkan dari jalan Panorama ke  Jalan Sangkuriang 17 Bandung sampai dengan saat ini.

SEKILAS TENTANG BANGUNAN KESATRIAN DISPSIAD

Gedung ini merupakan salah satu bangunan yang termasuk kedalam cagar budaya kota Bandung (Bandung Heritage) Jawa Barat. Dahulu bangunan ini adalah sebuah villa tempat tinggal seorang pedagang beras Tiong Hoa, Ang Eng Kan yang terletak di jalan Lammingaweg (sekarang jln. Sangkuriang). Villa indah ini memiliki taman yang indah sesuai namanya Mei Ling yang berarti kembang indah dibangun pada tahun 1930, karya arsitek F.W. Brinkman dengan gaya arsitektur Art Deco yang memiliki sejarah cukup penting dalam sejarah Indonesia.


Kesatrian Dispsiad era tahun 1930 sampai awal 2010. Suasana dan pemandangan yang asri tampak sangat terpelihara. Gedung ini berdiri kokoh di jalan Sangkuriang 17 Bandung.

  Batavia jatuh ketangan Jepang pada tanggal 5 Maret 1942, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, A.W.L. Tjanda van Starkenborgh Stachouwer, Panglima Tentara Hindia Belanda Lentan Jenderal H. Ter Poorten, Letnan Gubernur Jenderal Dr. Hubertus J. van Mook, beserta pejabat tinggi militer dan sipil lainnya telah meninggalkan Batavia untuk pindah ke Bandung. Rombongan Gubernur Jenderal tinggal di rumah Residen Priangan Tacoma (Gedung Pakuan sekarang).

Pada tanggal 6 Maret 1942 penguasa militer Hindia Belanda mengeluarkan perintah “tidak boleh ada pertempuran di dalam Kota Bandung” untuk menghindari jatuhnya korban penduduk dan para pengungsi. Pemerintah Belanda di pengasingan  (London) memerintahkan “harus dihindari suatu takluk total” pada tanggal 7 Maret 1942. Bersamaan dengan hari ulang tahun sang Gubernur Jenderal, rumah Residen Priangan dibom Jepang pada pagi hari 7 Maret 1942. Gubernur Jenderal dan rombongan pindah ke Villa Mei Ling pada malam harinya. Pada malam itu juga ketika Lembang sedang gencar diserbu tentara Jepang, Panglima Tentara mengirim utusannya untuk mengadakan gencatan senjata. Di Villa Mei Ling Gubernur Jenderal Hindia Belanda menerima balasan dari tentara Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, yang bersedia berunding di Kalijati. Pada pukul 18.20 Panglima Hindia Belanda, Letnan Jenderal H. Ter Poorten, menandatangani surat keterangan penyerahan militer Hindia Belanda kepada tentara Jepang. Kota Bandung menjadi saksi berakhirnya Pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia selama kurang lebih 350 tahun. Villa Mei Ling adalah saksi bisu terhindarnya kota Bandung dari kehancuran total karena Gubernur Jenderal Hindia Belanda bersedia bertemu dengan Bala Tentara Jepang di Kalijati.


Pada bulan Desember 1958 L.Ps.AD ditingkatkan menjadi Pusat Psykologi Angkatan Darat (PUSP¬SYAD). Selanjutnya menyesuaikan dengan berubahnya Staf ”A” Angkatan Darat menjadi Staf Ajen, berdasarkan Surat Kasad nomor : KEP-600/10/1970 tanggal 24-10-1970 tentang penggunaan istilah Dinas bagi Badan-badan Pelaksana Pusat dan akhirnya L.Ps.A.D. pun berganti nama menjadi Dinas Psikologi Angkatan Darat (DISPSIAD) hingga saat ini.


Salah satu bangunan sebagai tempat pendidikan psikologi di Pusat Psychologi Angkatan Darat, pada awal tahun 1960-an. Sekarang dikenal sebagai Gedung Seleksi dan Klasifikasi atau Gedung Selklas.

 

PERKEMBANGAN PERSONEL
Pada awal berdirinya karena LPT sangat kekurangan personel, maka pada bulan September 1950 direk¬rut 20 orang eks Tentara Pelajar Jawa Tengah,  yaitu dari K.M.K Semarang dan Surakarta yang telah melalui seleksi terlebih dahulu terdiri dari Perwira dan Bintara, serta pengangkatan orang-orang sipil menjadi tentara melalui pemanggilan iklan.  Akhir tahun 1950 terkumpul sejumlah 35 orang tentara dan 30 orang Sipil. Dari semua personel tersebut hanya 2 orang yang memiliki keahlian dalam bidang Psikologi, sehingga untuk mengatasi kekurangan Personel Ahli, beberapa Perwira Eks Tentara Pelajar tersebut diberangkatkan untuk Tugas Belajar bidang Psikologi ke Negeri Belanda. Pada tahun 1957 para pelajar ini ditarik ke Indonesia untuk mengatasi permasalahan dalam negeri (peristiwa Irian Barat), setelah selesai mereka kembali melanjutkan studi dan kemudian dipindahkan ke Jerman Barat, karena memburuknya hubungan Indonesia-Belanda. Mereka kembali ke Indonesia dengan meraih gelar Sarjana Psikologi pada tahun 1959, berturut-turut  dimulai dengan kelulusan :

  • Tahun 1959     : Kapten John S. Nimpoeno, Dipl. Psych. (awal kuliah mengambil jurusan Fisika kemudian berpindah mempelajari Psykologi), Kapten Soemitro Kartosoedjono, Dipl,Psych., dan Lettu Sardjono, Dipl, Psych.
  • Tahun 1960    : Kapten Bob Dengah Dipl. Psych.
  • Tahun 1961    : Kapten Soemarto, Dipl. Psych.
  • Tahun 1963    : Kapten Soenardi Darmo Sarojo, Dipl. Psych., dan Soewarjo, Dipl. Psych.

Kedua nama terakhir adalah demobilisasi dari Brigade 17 (bukan dari militer) yang memperoleh beasiswa dari PTIP sekarang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, yang kemudian ditarik jadi Wajib Militer. Meski demikian dirasakan masih belum mencukupi pemenuhan kebutuhan personel yang memiliki kualifikasi psikologi. Atas prakarsa Kepala Puspsyad beserta staf ahlinya bekerjasama dengan Prof. Sadaridjun (saat itu menjabat Rektor PTPG/UPI sekarang), Drs. Gerungan, Drs. Wulur dengan bantuan Prof. Dr. Mustopo (Pembantu Rektor III UNPAD saat itu) dan Kolonel Dr. Soemantri Hardjo Prakoso (Sekjen PDK) membicarakan gagasan mengenai regenerasi siapa yang akan mengawaki Dispsiad selanjutnya, maka pada kesempatan tersebut dibicarakan tentang pendirian Fakultas Psikologi Unpad. Atas restu Men. Pangad Mayjen TNI Achmad Yani dan Menteri PDK, maka pada tanggal 2 September 1961 terwujudlah Fakultas Psikologi  menjadi salah satu Fakultas di lingkungan UNPAD yang beralamat di Jalan Sangkuriang  No. 17  (Dispsiad sekarang) dengan harapan Sarjana lulusan UNPAD dapat mengisi kebutuhan Perwira (Psikolog) untuk Dispsiad.
Staf Ahli dari Puspsyad yang diwakili oleh Kapten Bob Dengah, Dipl. Psych bersama Dr.W.A. Gerungan diserahi tugas melakukan persiapan teknis dan kurikulum dari tingkat persiapan sampai sarjana muda. Dosen pengajar berasal dari Pusat Psykologi Angkatan Darat dan PTPG/FKIP UNPAD. Ruang-ruang kuliah disediakan oleh Pusat Psykologi Angkatan Darat di Jalan Sangkuriang 17 Bandung.


Selanjutnya dilakukan kerjasama dengan berbagai Perguruan Tinggi Negeri seperti UI, UNPAD dan UGM. Bahkan sampai sekarang Dispsiad terbuka untuk menerima perwira ahli psikologi tidak hanya universitas negeri bahkan universitas swasta dari seluruh Indonesia, tercatat diantaranya adalah : Alumni Universitas Wisnuwardana Malang, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Islam Bandung,  Universitas 45 Surabaya,  UNIKA Semarang,  Muhamadiah Semarang, Persada Indonesia YAI, Universitas Islam Sultan Syarif, Gunadharma, Muhamadiah Surakarta, Universitas Katholik Soegiyapranata, Universitas Islam Indonesia dan Universitas Achmad Yani.
Tidak mudah untuk memperoleh tenaga Sarjana Psikologi, untuk memenuhi kebutuhan, maka direkrut para mahasiswa UNPAD yang telah lulus Sarjana Muda untuk mengikuti pendidikan Militer Wajib (MILWA). Kepada mereka diberikan kesempatan untuk melanjutkan kuliah sampai selesai. Juga menugasbelajarkan bebera¬pa Perwira yang ada untuk mengikuti pendidikan S2 di luar negeri yang berkaitan dengan  bidang  studi Psikologi. Disamping itu diperoleh juga beberapa Sarjana Psikologi baik dari UNPAD, UI maupun UGM. Selain itu dengan adanya kebutuhan Sarjana dari disiplin lainnya, menyebabkan ditariknya seorang Sarjana Statis¬tik, Sarjana Sosiologi, Sarjana Bimbingan dan Konseling dan seorang Master di bidang  Administrasi. Perkembangannya hingga kini Dispsiad memiliki Sarjana Komputer dan Sarjana Sosial. Pada tahun 1966, sejumlah Perwira Lulusan Akademi Militer (13 orang) mendapat tugas di Dispsiad dan tahun 1968  ke – 13 orang Perwira lulusan Akademi Militer mendapat tugas belajar di Fakultas Psi¬kologi UNPAD. Adanya kebijaksanaan tersebut relatif telah dapat menutupi kebutuhan akan tenaga ahli sekalipun belum seluruhnya terpenuhi.
Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga Testor, Pimpinan Dispsiad (saat itu masih Puspsyad) bekerjasama dengan pusdik lainnya mengam¬bil kebijaksanaan untuk  melatih para personel yang ada melalui pendidikan SUSBAJUR dengan lama pendidikan 6 bulan, mempelajari tentang instruksi test. Pelaksanaan yang pertama mengikutsertakan juga personel dari  lembaga Psikologi Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Susbajur ini berlangsung selama beberapa angkatan. Selanjutnya berganti menjadi Susbaminpers lama pendidikannya berlangsung 4 bulan, mempelajari tentang administrasi psikologi (scoring), dilaksanakan di Secapa AD. Saat ini Dispsiad menyelenggarakan pendidikan pembentukan Testor dan Scorer secara mandiri didalam Kesatrian Dispsiad.

KIPRAH PENGABDIAN
Menyikapi perkembangan ilmu Psikologi yang dinamis dan juga untuk memenuhi tuntutan tugas sesuai perkembangan keilmuan yang modern, Dispsiad melatih personelnya dengan berbagai keterampilan maupun keahlian khusus dalam bidang Psikologi. Pelatihan-pelatihan tersebut antara lain: mendatangkan para pakar dari universitas (UNPAD) untuk mengasah  kemampuan diagnosa, mengirimkan beberapa orang anggota untuk mengikuti pelatihan Hipnotherapi (sertifikasi), mendatangkan Ahli terapi “Emotional Freedom Therapy (EFT)“ yang diikuti oleh seluruh Perwira, Bintara dan PNS Ahli  Dispsiad (sertifikasi),  mengirimkan dan mengundang pakar Assessment Center untuk melatih kemampuan anggota pada tingkat advance (sertifikasi), mengikuti pelatihan Grafologi maupun dalam bidang ilmu lainnya untuk meningkatkan kemampuan diagnosa dan masih banyak lagi pelatihan lainnya. Selain itu juga Dispsiad mengadakan kegiatan rutin “Diskusi Ilmiah“ setiap bulannya sebagai wadah untuk mengasah maupun mendapatkan informasi terkini tentang keilmuan Psikologi.
Perjalanan karir yang panjang dan keberadaannya dikancah dunia militer maupun bidang keilmuan dan pendidikan, Dispsiad tidak hanya menerima dan belajar dari kemajuan perkembangan ilmu psikologi maupun militer, namun juga mampu memberikan kontribusi sebagai masukan atas perkembangan keilmuan baik di Dalam Negeri maupun Luar Negeri. Dispsiad pernah mengadakan Seminar tentang Disiplin Nasional, Seminar Nasional tentang Wawasan Kebangsaan dan dilanjutkan dengan Lokakarya untuk mendapatkan kriteria yang lebih konkrit. Mendukung kegiatan Pameran TNI AD dengan menampilkan alat-alat test psikologi yang rutin diadakan di PRJ Jakarta setiap tahun dan selalu menarik minat khalayak bahkan beberapa kali menjadi stand favorit karena paling ramai dikunjungi peserta pameran.


Dispsiad juga melakukan studi banding ke beberapa negara seperti Amerika dan Canada pada tahun 2007 dan mengikuti kegiatan kongres IMTA/IMLA pada tahun 2007 di Australia, tahun 2008 di Belanda, tahun 2009 di Estonia dan tahun 2010 di Swiss. Berdasarkan hasil kongres IMTA/IMLA pada tahun 2008, Indonesia (Dispsiad) dipercaya untuk menyelenggarakan kongres berikutnya pada tahun 2011 yang direncanakan akan dilaksanakan di Bali.


Kegiatan Kongres IMTA/IMLA tahun 2007 di Australia, tahun 2008 di Belanda dan tahun 2009 di Estonia.

 Pada saat  ini Dispsiad memiliki tenaga ahli satu orang Doktor Psikologi, 14 orang Sarjana S2, 10 orang Psikolog, 15 orang Sarjana Psikologi yang belum Profesi/S2, dua orang Sarjana Sosial, dua orang Sarjana Administrasi Pemerintah, dua orang Sarjana Komputer dan salah satunya sedang melanjutkan S2 MIP, tiga orang D3 Instek, dua orang D3 Komputer, dua orang D3 Akuntansi, satu orang D3 Manajemen Perkantoran, satu orang D3 Informatika.  Beberapa orang lainnya sedang menempuh pendidikan lanjutan, yaitu dua orang sedang menempuh pendidikan lanjutan S3 di bidang Psikologi, 14 Orang yang sedang melanjutkan S2 Profesi Psikologi, delapan orang yang sedang menempuh pendidikan S1 Psikologi baik Bintara maupun Perwira.
Sejak berdiri tahun 1950 hingga sekitar tahun 1960 kegiatan utama Dispsiad masih terbatas pada bidang seleksi, baik tertulis maupun lapangan.  Kegiatan tersebutpun hingga kini masih aktif dilaksanakan Dispsiad, dalam rangka menentukan masyarakat sipil (calon taruna) yang memiliki kondisi psikologis yang sesuai dengan profil prajurit, maupun seleksi para prajurit yang ingin pindah golongan.

Sejak tahun 1960 Dispsiad mengembangkan perannya denganmelakukan kegiatan seleksi, klasifikasi, konsultasi, penelitian psikologi, assessment center serta kegiatan mengajar di Lemdik-lemdik di lingkungan TNI AD.

 


Kegiatan mengajar siswa Susdanki Multi Nasional,yang diikuti oleh beberapa Negara lain, seperti Filipina, Singapura, Brunai, Kamboja, Malaysia, Pakistan  dll.


Apresiasi atas peranan Dispsiad semakin hari semakin bertambah dan berkembang. Kepercayaan atas fungsi Psikologi dari Pimpinan TNI AD semakin nyata setelah dilibatkan dalam kegiatan operasional.  Sejak tahun 1977 sampai sekarang fungsi dan kegiatan Dispsiad makin bertambah luas, seperti Penelitian Sosial,  peningkatan dan pengembangan kualitas SDM berbasis kompetensi Assessment Center ( PPKJ - Program Penilaian Kompetensi Jabatan )    dan Program Pengembangan.

Beberapa kegiatan dalam PPKJ SUSDANDIM yaitu kegiatan diskusi kelompok atau  lebih dikenal dengan LGD-A dan kegiatan paparan atau proposal writing.

Kompetensi dan Kepemimpinan di PLDC, ikut aktif berperan dalam rangka menjadi pasukan perdamaian ke LN antara lain : ke Vietnam yang diawaki oleh Letkol D. Ruhyat, Letkol Azis Achyadi, ke Georgia oleh Mayor Ardi Sutopo.  Melaksanakan pelatihan Psikologi, Konsultan dalam bidang Olah Raga untuk menangani atlet-atlet Nasional (Perbakin, Bridge, Anggar, Silat, Karate, Petembak TNI/TNI AD BISAM, AARM), PBSI, KONI.

Beberapa kegiatan pendampingan olah raga yang dilaksanakan didalam maupun Luar Negeri dan berhasil meraih prestasi yang membanggakan baik bagi satuan maupun membawa harum nama Republik Indonesia.Gambar mulai sebelah kiri kegiatan pelatihan para atlet PBSI, pendampingan AARM di Thailand dan Filipina.