Oleh : Kolonel Caj Drs. Sigit Pramono, M.Psi

 Ditengah dunia yang semakin kompetitif dan terus berubah seiring dengan mudahnya akses informasi yang sangat terbuka, tidak ada jalan lain bagi setiap individu untuk survive demi mempertahankan posisi dan kontribusinya bagi organisasi melalui kesiapan belajar. Organisasi yang senantiasa belajar akan mampu menghadapi perubahan melalui perubahan tanpa harus kehilangan jati dirinya, pertanyaan mendasarnya adalah belajar yang bagaimana perlu dikembangkan bagi organisasi ?

Pembicaraan tentang organisasi pembelajaran telah berkembang sejak era 90an ketika Peter Senge memperkenalkan teorinya tentang Disiplin Kelima (5th Discipline), Organisasi pembelajar bukan sekedar berisi orang-orang yang memiliki derajat pendidikan ataupun organisasi yang sering mengirimkan anggotanya untuk sekolah, training dan kursus-kursus baik didalam maupun diluar organisasi. Organisasi pembelajar harus dapat dilihat sebagai suatu budaya organisasi dimana berisi sejumlah perilaku-perilaku yang terus menerus mencari dan menemukan cara-cara terbaik dalam menyelesaikan setiap persoalan. Pada situasi ini organisasi tidak hanya melihat kesalahan dan kegagalan sebagai sesuatu yang dihindari dan ditakuti bahkan ditutupi, namun setiap kesalahan dan kegagalan harus bisa ditelusuri sebab musababnya sehingga dipastikan tidak akan muncul kembali kesalahan yang sama di masa depan. Kesediaan untuk terbuka dan berbagi pengalaman merupakan kunci utama terbentuknya budaya belajar karena dalam organisasi pembelajar setiap individu bertangung jawab untuk menyampaikan upaya-upayanya dalam menyelesaikan pekerjaan tanpa mempedulikan kegagalan ataupun keberhasilannya. Dalam mengembangkan komunikasi yang berisi ‘sharing’ pengalaman  diantara individu maka komunikasi yang dibangun adalah dialog bukan sekedar diskusi. Pengertian dialog disini adalah kedua pihak yang berkomunikasi dapat menyampaikan argumen-argumen yang relevan terhadap pencapaian target ataupun penyelesaian persoalan. Bahkan dalam mencanangkan mimpi (visi) organisasi sebagai visi bersama.

Hambatan terbesar untuk mencapai organisasi pembelajar adalah rantai kerja yang berbelit (birokrasi), suasana yang tidak nyaman dalam berkomunikasi, tidak mampu berkomunikasi yang dapat menembus divisi atau unit kerja lain, berperilaku tidak sejalan dengan misi organisasi, masih sibuk mementingkan kebutuhan pribadi dan bahkan berperilaku politik dalam mencapai tujuan pribadi. Organisasi pembelajar hanya akan tumbuh bila suasana kerja mendorong pengembangan pribadi, dan personal mastery secara utuh, menyemangati kerja tim memberi kesempatan problem solving dan mengupayakan evaluasi yang jujur dan tulus dari setiap individu dalam organisasi. Ditingkat individu sikap menunggu waktu yang tepat untuk mengerjakan sesuatu, sikap untuk apa belajar hal-hal baru? Serta sikap dan pendapat yang mengatakan “biarkan yang muda yang mempelajarinya”, merupakan cikal bakal dari kesulitan terbangunnya semangat belajar dari organisasi.

 Tantangan pembelajar pada organisasi militer.       

Profesionalisme militer dalam menjalankan fungsi utamanya yaitu mempertahankan eksistensi negara dalam menghadapi ancaman keamanan eksternal. Profesionalisme militer tidak saja akan memperkuat institusi militer sebagai alat negara tetapi juga menghindarkan militer dari arena tarik menarik kepentingan politik yang pada gilirannya justru hanya menempatkan militer sebagai alat kekuasaan.  Tuntutan profesionalisme juga harus dibarengi dengan kemandirian anggaran yang memadai. Kemadirian anggaran bukan berarti organisasi militer dapat memperoleh sumber daya anggaran sendiri tetapi lebih pada pengelolaan anggaran pemerintah untuk kepentingan organisasi. Organisasi militer memiliki kelengkapan struktur pendidikan organisasi sebagai suatu kebutuhan untuk dapat menjawab tuntutan tugas.  Doktrin dalam organisasi militer sebagai pedoman dasar arah pencapaian tujuan organisasi dapat dijabarkan secara praktis melalui struktur pendidikan yang kedudukannya sangat dominant dalam organisasi militer. Peran dan fungsi lembaga pendidikan dalam organisasi militer sudah sangat jelas dalam membentuk, menyiapkan dan membekali personel agar memiliki kesiapan ketrampilan, mental maupun semangat dan motivasi melaksanakan tugas secara paripurna. Kegiatan pendidikan dan latihan dalam satuan menjadi format yang sangat efektif dalam meningkatkan kesiapan prajurit dalam melaksanakan tugas yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing satuan.

Peningkaktan kompetensi personel merupakan tantangan kedepan yang perlu dijawab melalui rancangan pendidikan dan latihan yang sesuai dengan tuntutan penguasaan personel dalam melaksanakan tugasnya. Rancangan kurikulum pendidikan yang “match” dengan kebutuhan peningkatan kompetensi personal merupakan tuntutan yang harus dapat dijawab oleh penyelenggara pendidikan sehingga suasana belajar dalam proses pendidikan dapat tercipta. KOmpetensi personal yang secara sederhana dipisahkan menjadi kompetensi keras (hard competencies) dan kompetensi lunak (soft competencies) harus benar-benar dapat tercermin dalam kurikulum pendidikan sehingga keluaran (output) dari proses pendidikan/latihan benar-benar mencerminkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas.  Melalui proses pendidikan dan latihan yang bernuansa pembelajaran maka organisasi militer sebagai organisasi pembelajar dapat menjawab tuntutan dan tantangan tugas untuk mencapai tujuan organsasi sebagai professional yang benar-benar kompeten dalam melaksanakan tugasnya.

Penulis :

Kolonel Caj Drs. Sigit Pramono, M.Psi saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Psikologi Angkatan Darat.  Pendidikan S1 dari Universitas Gajah Mada dan S2 Psikologi dari Fakultas Psikologi Unpad.  Beberapa penugasan yang cukup lama ditekuni adalah ikut serta dalam Tim operasi psikologi di Timor-Timur dan Aceh.

 

Pendidikan Militer  :  Dikreg 35 (1997/1998).