Menangani Kasus Bencana

Oleh : Kolonel Inf Drs. Jonnie Koentara

      Peristiwa traumatik dapat terjadi pada siapa saja. Seseorang bisa secara tiba-tiba mengalami bencana, baik karena bencana alam ataupun tindak kejahatan tertentu sehingga menyebabkan trauma. Peristiwa tersebut datang tanpa dapat diprediksi sebelumnya, sehingga kondisi psikologis menjadi terganggu. Reaksi terhadap suatu peristiwa dapat berbeda-beda pada setiap orang. Pada sebagan orang suatu bencana tidak menyebabkan trauma, tapi pada orang lain dapat menyebabkan trauma yang mendalam. Terkadang trauma menyebabkan seseorang tidak mampu menjalankan kesehariannya seperti yang biasanya dilakukan, bayangan akan peristiwa tersebut senantiasa kembali dalam ingatannya dan mengusiknya,  ia juga merasa tak mampu untuk mengatasinya.

          Jika berbicara tentang tindak kekerasan atau trauma, ada suatu istilah yang dikenal sebagaiPost Traumatic Stress Disorderatau PTSD (gangguan stres pasca trauma). Yaitu gangguan stres yang timbul berkaitan dengan peristiwa traumatis luar biasa. Misalnya, melihat orang dibunuh, disiksa secara sadis, korban kecelakaan, bencana alam, dan lain-lain. PTSD merupakan gangguan kejiwaan yang sangat berat, karena biasanya penderita mengalami gangguan jiwa yang mengganggu kehidupannya.

1.         Pengertian PTSD

Perlu untuk dibedakan, apakah seseorang sudah mengarah pada PTSD atau masih PTS (post traumatic sympton). Kalaupun masih PTS tidak akan sampai menimbulkan gangguan berat, masih dapat ditangani oleh psikolog yang terlatih. Yang perlu dilakukan adalah jangan sampai PTS menjadi PTSD. Post-traumatic stress disorder dapat mempengaruhi mereka yang secara pribadi mengalami bencana atau musibah besar, mereka yang menjadi saksi atas kejadian tersebut, dan mereka yang membantu dalam kejadian tersebut, termasuk pekerja sosial dan petugas keamanan. Bahkan hal ini dapat terjadi di kalangan teman atau kerabat dari orang yang mengalami trauma (Smith & Segal. 2008).

Beberapa sumber mendefinisikan Post Traumatic Stress Disorder sebagai berikut:

          Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan kecemasan yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan, sulit dan tidak menyenangkan dimana terdapat penganiayaan fisik atau perasaan terancam(American Psychological Association, 2004).   

          Post-traumatic stress disorder (PTSD) is a disorder that can develop following a traumatic event that threatens your safety or makes you feel helpless (Smith & Segal, 2008).

    Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah sebuah gangguan yang dapat terbentuk dari peristiwa traumatik yang mengancam keselamatan anda atau membuat anda merasa tidak berdaya (Smith & Segal, 2008).

Peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa traumatik.

Pada umumnya mengandung tiga buah elemen sebagai berikut (Jaffe, Segal, & Dumke, 2005):

·              Kejadian tersebut tidak dapat diprediksi (It was unexpected)

·                Orang yang mengalami kejadian tersebut tidak siap dihadapkan pada kondisi / kejadian demikian (The person was unprepared)

·                Tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang tersebut untuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut (There was nothing the person could do to prevent it from happening)

Pengalaman hidup apapun yang terlalu "mengguncang" dapat memicu PTSD, terutama jika peristiwa tersebut dilihat sebagai sesuatu yang tidak dapat diduga dan dikendalikan / dikontrol (Smith & Segal. 2008).

Smith & Segal menyebutkan peristiwa traumatik yang dapatmengarah kepada munculnya PTSD termasuk:

·            Perang (War)

·            Pemerkosaan (Rape)

·            Bencana alam (Natural disasters)

·            Kecelakaan mobil / Pesawat (A car or plane crash)

·            Penculikan (Kidnapping)

·            Penyerangan fisik (Violent assault)

·            Penyiksaan seksual / fisik (Sexual or physical abuse)

·            Prosedur medikal - terutama pada anak-anak (Medical procedures - especially in kids)

 

2.         Kategorisasi PTSD

          Secara umum gejala PTSD dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

a.         Merasakan kembali peristiwa traumatik tersebut  (Re-Experiencing Symptoms)

·               Secara berkelanjutan memiliki pikiran atau ingatan yang tidak menyenangkan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Frequently having upsetting thoughts or memories about a traumatic event). Terulangnya bayangan mental akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami,

·               Mengalami mimpi buruk yang terus menerus berulang (Having recurrent nightmares).

·               Bertindak atau merasakan seakan-akan peristiwa traumatik tersebut akan terulang kembali, terkadang ini disebut sebagai "flashback" (Acting or feeling as though the traumatic event were happening again, sometimes called a "flashback").

·               Memiliki perasaan menderita yang kuat ketika teringat kembali peristiwa traumatik tersebut (Having very strong feelings of distress when reminded of the traumatic event).

·               Terjadi respon fisikal, seperti jantung berdetak kencang  atau berkeringat ketika teringat akan peristiwa traumatik tersebut (Being physically responsive, such as experiencing a surge in your heart rate or sweating, to reminders of the traumatic event).

 

b.        Menghindar (Avoidance Symptoms)

·                Berusaha keras untuk menghindari pikiran, perasaan atau pembicaraan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid thoughts, feelings, or conversations about the traumatic event).

·                Berusaha keras untuk menghindari tempat atau orang-orang yang dapat mengingatkan kembali akan peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid places or people that remind you of the traumatic event).

·                Sulit untuk mengingat kembali bagian penting dari peristiwa traumatik tersebut (Having a difficult time remembering important parts of the traumatic event).

·                Kehilangan ketertarikan atas aktivitas positif yang penting (A loss of interest in important, once positive, activities).

·                Merasa "jauh" atau seperti ada jarak dengan orang lain (Feeling distant from others).

·                Mengalami kesulitan untuk merasakan perasaan-perasaan positif, seperti kesenangan / kebahagiaan atau cinta / kasih sayang ( Experiencing difficulties having positive feelings, such as happiness or love).

·                Ketakberdayaan / ke’tumpul’an emosional dan ‘menarik diri’

·                Merasakan seakan-akan hidup anda seperti terputus ditengah-tengah - anda tidak berharap untuk dapat kembali menjalani hidup dengan normal, menikah dan memiliki karir.

·                Terjadi gangguan yang menyebabkan kegagalan untuk berfungsi secara efektif dalam kehidupan sosial (pekerjaan, rumah tangga, pendidikan, dll)

c.         Hyperarousal Symptoms

·                Sulit untuk tidur atau tidur tapi dengan gelisah (Having a difficult time falling or staying asleep).

·                Mudah / lekas marah atau meledak-ledak (Feeling more irritable or having outbursts of anger).

·                Memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi (Having difficulty concentrating).

·                Selalu merasa seperti sedang diawasi atau merasa seakan-akan bahaya mengincar di setiap sudut "Feeling constantly "on guard" or like danger is lurking around every corner".

·                Menjadi gelisah, tidak tenang, atau mudah "terpicu" / sangat "waspada" (Being "jumpy" or easily startled).

·                Terlalu siaga / waspada  yang disertai ketergugahan/keterbangkitan secara kronis.

Jika PSTD tidak ditangani dengan benar, maka akan mempengaruhi kepribadian seseorang (perubahan kepribadian). Seperti paranoid (mudah curiga) misalnya. Kesulitan hal ini adalah jarang sekali penderita dengan kesadaranya datang ke para ahli. Apalagi stigma yang beredar dimasyarakat bahwa psikiater identik dengan orang sakit jiwa atau gila.

 

3.         Reaksi Stress Terhadap Bencana

a.         Dampak Emosional

                Kaget

                Marah

                Sedih

                Mati rasa

                Merasa dihantui

                Bersalah

                Duka yang mendalam

                Terlalu perasa

                Merasa tidak berdaya

                ‘Tumpul’ dan tak lagi mampu merasa senang serta bahagia dengan aktifitas sehari-harinya

                Disosiasi, berupa keberulangan dalam pikiran tentang bencana yang telah terjadi, merasa terpaku dan dikendalikan oleh kejadian-kejadian, atau keterpakuan pada bencana.

b.        Dampak fisik

       Kelelahan fisik yang sangat

       Sulit atau bahkan tidak bisa tidur

       Gangguan tidur

       Sangat mudah tersentuh perasaan dan ingatannya

       Keluhan-keluhan yang mengarah pada gangguan syaraf

       Sakit kepala

       Reaksi-reaksi yang menggambarkan kegagalan sistem kekebalan tubuh

       Selera makan terganggu

       Libido meningkat atau justru menurun drastic

 

c.         Dampak kognitif

                Sulit atau tak bisa lagi berkonsentrasi

                Tidak mampu membuat keputusan-keputusan

                Gangguan mengingat

                Sulit mempercayai informasi-informasi

                Kebingungan

                Mudah teralihkan atau perhatian mudah terpecah

                Menurunnya penilaian terhadap keadaan diri

                Menurunnya penilaian terhadap kemampuan diri

                Menyalahkan diri sendiri

                Merasa mudah diganggu oleh pikiran ataupun ingatan

                Khawatir atau cemas

d.        Dampak Interpersonal

                Membatasi dan menarik diri

                Menghindar dari relasi-relasi sosial yang ada

                Meningkatnya konflik dalam berhubungan dengan orang lain

                Keterlibatan dan prestasi kerja menurun

                Keterlibatan dan prestasi di sekolah menurun

 

4.         Bagaimana cara mengatasi dan menghilangkan masalah trauma?

Berbagai model psikoterapi telah dikembangkan untuk mengatasi PTSD seperti, terapi perilaku, desensitisasi, hipnoterapi, semuanya cukup efektif asal penderita juga mendapatkan dukungan dari masyarakat lingkunganya dan juga orang terdekatnya.

a.         Menerapkan Prinsip Dasar Penanganan Stress pada Phase Emergensi:

·               Membantu survivor (dalam hal ini adalah korban) untuk istirahat dan tidur untuk pemulihan kondisi tubuh

·               Menyiapkan area yang aman untuk interaksi antar personal.

·               Menangani dengan segera kondisi dan kesehatan fisik.

·               Membantu dalam mencari dan memastikan keselamatan anggota keluarganya

·               Membantu menghubungkan survivor dengan keluarga, orang yang dicintai, atau pihak-pihak yang dapat membantu lainnya

·               Membantu survivor untuk mengambil langkah praktis mengatasi masalah aktual dan kembali ke kehidupan semula

·               Membantu memfasilitasi kehidupan normal yang menyangkut keluarga, komunitas, sekolah, dan pekerjaan

·               Memberikan kesempatan untuk mengekspresikan kesedihannya

·               Membantu survivor menurunkan tekanan masalah, kecemasan, atau kesedihannya hingga ke level yang dapat dikelolanya

·               Membantu penolong pertama survivor melalui konsultasi dan training tentang pola umum reaksi stress dan teknik pengelolaan stress.

b.        Menetapkan Prioritas

Membantu melindungi survivor dari luka atau terpaan stimulus traumatik selanjutnya dengan cara :

·               Memberikan tempat perlindungan yang memisahkan mereka dari stimulus-stimulus tersebut.

·               Melindungi mereka dari media atau orang-orang yang sekedar ingin tahu.

c.         Memberikan bantuan dan pengarahan

Survivor biasanya kehilangan arah, shock, atau mengalami dissosiasi.

Membantu mengarahkan mereka untuk menjauh dari:

·               Area kerusakan/tempat kejadian

·               Survivor lain yang terluka

·               Bahaya yang terus berlangsung

d.        Memberi kesempatan untuk berinteraksi

Hubungan sosial adalah elemen penting bagi proses pemulhan.

·               Ketika berinteraksi dengan survivor, agar diciptakan situasi dan memberi dia kesempatan untuk mengalami kembali nilai-nilai sosial untuk saling menolong dan menanamkan nilai-nlai kebaikan.

·               Membantu survivor untuk dapat berhubungan dengan orang yang dicintai, memberikan informasi yang akurat dan memadai, tempat dimana mereka bisa mendapatkan dukungan tambahan

e.         Penanganan segera & perawatan penderita akut

·               Survivor yang menunjukkan reaksi stress panik yang berlebihan perlu mendapatkan intervensi dengan segera.

·               Upayakan untuk menangkap tanda-tanda fisik berupa gemetar, berteriak-teriak marah, agitasi, sikap tubuh seperti robot yang menandakan panik atau kesedihan mendalam.

·               Segera lakukan pendekatan terapeutik, pastikan keselamatannya, upayakan untuk  mendengarkan dan menghargai pengalamannya, dan menunjukkan empathi. Pertolongan medis mungkin juga dibutuhkan jika ada.

·               Kehadiran anda dapat meredakan penderitaan survivor yang panik atau sedih mendalam:

·               Upayakan untuk mendampingi atau menyiapkan orang yang dapat selalu berada di dekatnya sampai perasaannya reda.

f.          Penanganan Gangguan Berat

                Ditangani secara intensif oleh Psikiater dan didampingi oleh Psikolog.

                Dapat dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa atau berobat Jalan.

                Dilakukan Evaluasi Setiap Bulan Sekali.

                Dipindahkan kedalam program Penanganan Gangguan Sedang apabila hasil Evaluasi menunjukkan demikian.

g.        Penanganan Gangguan Sedang

                Ditangani secara intensif oleh Psikolog melalui Konseling Individual.

                Dilakukan dalam ruangan khusus yang memenuhi syarat untuk dilaksanakan konseling.

                Diberikan pekerjaan-pekerjaan ringan yang disukainya.

                Dilakukan evaluasi satu kali setiap bulan.

 

Program penanganan gangguan ringan atau berat didasarkan hasil evaluasi. Penanganannya dilaksanakan secara intensif melalui konseling kelompok oleh Helper dibawah supervisi Psikolog dengan cara :

a.         Seminggu sekali dalam 3 bulan pertama

b.         Dua bulan sekali mulai bulan keempat sampai keduabelas (sampai sembuh).

                Pengelompokan dilakukan berdasarkan usia dan keluarga dengan jumlah kelompok maksimal 12 orang (10 orang ideal)

                Dilakukan dalam ruangan atau tempat yang memenuhi syarat untuk konseling kelompok.

                Diberikan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan minat dan penguasaannya.

                Dilakukan evaluasi setiap bulan.

                Dipindahkan kedalam program Penanganan Gangguan Sedang apabila hasil evaluasi menunjukkan perkembangan demikian.

                Apabila perkembangannya positif diminta untuk tetap aktif membantu kelompoknya untuk recovery.

 

5.         Kesimpulan

Post Trauma Syndrome Disorder  (PTSD) merupakan bentuk gangguan psikologis yang diakibatkan oleh trauma terhadap kejadian yang dialami seseorang. Trauma ini dapat menyebabkan berbagai macam reaksi stress baik secara emosional, fisik, kognitif maupun interpersonal. Oleh sebab itu membutuhkan penanganan secara sungguh-sungguh sesuai dengan tingkat traumatis yang dialami.

 

Referensi :

Smith, M., Segal R., Segal, J. (November, 2008). "Post-traumatic Stress Disorder (PTSD): Symptoms, Treatment, and Self-Help." This data retrieved from http://www.helpguide.org/mental/post_traumatic_stress_disorder_symptoms_treatment.htm.

Penulis :

Kolonel Inf Drs. Jonie Koentara saat ini menjabat sebagai Kepala Subdinas Psikologi Klinik.Pendidikan  S1 jurusan Psikologi Klinik dari Fakultas Psikologi Unpad.  Dipercaya sebagai Katim Psikologi TNI-Polri saat menangani pasca bencana Gempa Bumi di  Yogyakartapada bulan Mei – Juli 2006.

Pendidikan Militer  :  Dikreg Seskoad 39 (2001/2002).

 

 

Pendampingan Trauma Psikologi Pasca Bencana di Lhokseumawe