Oleh : Letkol Caj Drs. Gunawan, DESS

 

Pendahuluan

 

Dispsiad sebagai Balakpus yang bertugas di bidang psikologi terapan merasa perlu untuk selalu mendapatkan masukan terbaru di bidang psikologi guna meningkatkan kualitas keahlian profesi dan nilai profesionalitas layanan jasa psikologi yang dimilikinya sehingga pada gilirannya dapat memberikan kontribusi yang terbaik bagi TNI AD.  Salah satu cara untuk memperoleh informasi perkembangan ilmu psikologi adalah dengan mengikuti seminar, kongres lokakarya ataupun menjadi anggota organisasi internasional bidang psikologi.  Untuk itu, sejak 3 tahun terakhir ini Dispsiad telah bergabung dalam 2 organisasi dunia yaitu International Military Testing Association (IMTA) yang bergerak dalam bidang tes-tes psikologi di lingkungan militer, dan International Military Leadership Association (IMLA) yang melingkupi bidang pengembangan kualitas kepemimpinan di lingkungan militer.

 

Sekilas tentang IMTA

 

IMTA atau International Military Testing Association adalah organisasi perhimpunan profesi internasional bergerak dalam penerapan ilmu psikologi,  terutama berkaitan dengan pengembangan alat pemeriksaan psikologi di lingkungan militer untuk keperluan rekrutmen, seleksi, klasifikasi, pemberian dukungan psikologi dalam siklus operasi militer (sebelum, selama dan sesudah), serta dengan pengembangan kepemimpinan militer.  IMTA didirikan pada tahun 1959 yang ditandai dengan penyelenggaraan konferensi pertamanya oleh Pusat Seleksi Angkatan Laut Amerika Serikat (US Naval Examining Center) di Great Lakes, Amerika Serikat.  Kegiatan utama IMTA, sejak didirikannya sampai sekarang, adalah penyelenggaraan konferensi tahunan sekitar bulan Oktober atau November yang terbuka untuk umum (bukan hanya untuk anggota) dengan tempat penyelenggaraan yang berbeda-beda setiap tahunnya. Tahun 2010 ini, akan diselenggarakan konferensi tahunan IMTA ke 52 di Lucerne Swiss pada tanggal 27 September s/d 1 Oktober 2010.

 

Tujuan pendirian IMTA antara lain :

 

         Mendiskusikan dan saling bertukar pemikiran terkait dengan penelitian-penelitian dan strategi dalam manajemen sumberdaya manusia

 

         Mendiskusikan misi, pengorganisasian, operasi dan kegiatan penelitian dari organisasi yang terlibat dalam kegiatan pemeriksaan personel militer.

 

         Mendorong peningkatan pemeriksaan personel melalui eksplorasi dan presentasi mengenai tehnik dan prosedur pengukuran tingkahlaku, analisa pekerjaan, pembuatan model simulasi, pelatihan, metodologi seleksi, tingkahlaku organisasi dan kepemimpinan serta sistem survei.

 

         Memfasilitasi kerjasama untuk pertukaran prosedur, tehnik dan instrumen pemeriksaan psikologi.

 

         Meningkatkan peran pemeriksaan psikologi bagi personel militer sebagai proses ilmiah dalam manajemen personel militer.

 

 

 

Saat ini anggota IMTA berjumlah lebih dari 300 orang/lembaga yang bergerak dalam bidang psikologi dan/atau kepemimpinan dari sekitar 35 negara, yaitu : 

 

      Australian Army Psychology Corps

 

      Australian Defence Force Psychology Organisation

 

      Austrian Armed Forces Military Psychology Service

 

      Belgian Royal Military Academy Department Of Psychology

 

      Belgian Defence Human Resources Directorate

 

      Canadian Forces Leadership Institute

 

      Canadian Forces Military Personnel Research Directorate

 

      Canadian Forces Military Human Resources Requirements Directorate

 

      Croatian Armed Forces Psychological Services

 

      French Army Center For Research In Health Sciences - Psychology Section

 

      German Armed Force Psychological Services

 

      Indonesian Army Psychological Service (Dispsiad)

 

      Republic Of Korea Institute For Defence Analyses

 

      Netherlands Defence Behavioral Sciences Service Centre

 

      Netherlands Defence Service Center For Psychological Advice And Selection

 

      South African National Defence Force – Psychology Directorate

 

      Singapore Armed Forces - Applied Behavioural Sciences Department

 

      Swedish National Defence College – Department Of Leadership & Management

 

      Swiss Army Military Academy - Department Of Psychology & Military Pedagogy

 

      Swiss Army Military Academy – Department Of Leadership And Communication

 

      United Kingdom Ministry Of Defence – Military Psychology Section

 

      US Defense Personnel Security Research Center

 

      US Army Research Institute For The Behavioral And Social Sciences

 

      US Navy Advancement Center

 

      US Air Force Personnel Center

 

      Calon Anggota Baru : China, Brazil dan New Zealand

 

Sekilas tentang IMLA

 

IMLA atau International Military Leadership Association adalah organisasi perhimpunan profesi internasional bergerak dalam penerapan ilmu psikologi  yang berkaitan dengan pengembangan kepemimpinan militer.  Kebutuhan adanya organisasi IMLA dirasakan pada saat sesi-sesi diskusi IMTA yang berkaitan dengan penerapan dan pengembangan kepemimpinan militer sehingga pada penyelenggaraan konferensi IMTA ke 47 tahun 2005 di Singapura diselenggarakan pula pertemuan IMLA untuk pertama kalinya.  Pertemuan-pertemuan tahunan IMLA diselenggarakan terutama untuk membahas dan mendiskusikan kemajuan dari masing-masing pusat pengembangan kepemimpinan di organisasi angkatan bersenjata negara anggota IMLA dan penyusunan buku kepemimpinan militer internasional dengan topik yang berbeda-beda setiap tahunnya.  Pada pertemuan IMLA ke-4 tahun 2008 di Belanda, untuk pertama kalinya dirancang dalam bentuk lokakarya dengan mengundang beberapa orang pemimpin lapangan (field commander) yang menceritakan pengalaman mereka dalam mengaplikasikan kepemimpinannya.  Setelah itu, pengalaman-pengalaman tersebut dibahas dan didiskusikan dari sudut ilmu perilaku, terutama berkaitan dengan kepemimpinan beretika (ethical leadership). Sampai saat ini, pertemuan tahunan IMLA diselenggarakan bertepatan dengan penyelenggaraan konferensi IMTA.

 

 

 

Tujuan pendirian IMLA antara lain :

 

         Mendiskusikan dan saling bertukar pemikiran terkait dengan penerapan dan pengembangan kepemimpinan militer

 

         Meningkatkan kesadaran tentang berbagai masalah dalam penerapan kepemimpinan militer.

 

         Memperkenalkan berbagai agenda kegiatan dari pusat-pusat pengembangan kepemimpinan militer yang menjadi anggota IMLA.

 

         Memfasilitasi kerjasama dalam penelitian dan pengembangan kepemimpinan militer.

 

 

 

Saat ini anggota IMLA berjumlah 8 lembaga pusat pengembangan kepemimpinan militer, yaitu : 

 

§  Australian  Defence College - Centre For Defence Leadership Studies

 

§  Canadian Forces Leadership Insitute

 

§  Indonesian Army Psychological Service

 

§  Royal New ZealandNavy – Leadership Development Group

 

§  SingaporeArmed Force - Centre Of Leadership Development

 

§  Swiss Army Military Academy – Department Of Leadership And Communication

 

§  Royal Netherlands Army  - School For Leadership

 

§  United KingdomDefence Leadership & Management Centre

 

§  Calon anggota baru : Pusat Kepemimpinan Angkatan Bersenjata Belgia

 

Keikutsertaan Dispsiad dalam IMTA

 

Dinas Psikologi Angkatan Darat (Dispsiad) mulai terlibat sejak konferensi IMTA ke 49 dan pertemuan IMLA ke 3 tahun 2007 di Gold Coast Australia.  Pada saat itu pula Indonesia, yang diwakili oleh Dispsiad, diterima sebagai anggota Steering Committee IMTA dan menjadi anggota IMLA.   Pada tahun berikutnya Dispsiad kembali mengikuti konferensi IMTA dan pertemuan IMLA; tahun 2008 di Belanda dan tahun 2009 di Estonia. 

 

Konferensi IMTA yang ke 49 tahun 2007 dilaksanakan di Gold Coast, Australia dengan tema : Applying the science : enhancing the human dimension of military capability and operational effectiveness atau Penerapan ilmu pengetahuan : Pemantapan aspek manusia untuk kemampuan militer dan efektifitas operasi. Konferensi diikuti oleh 218 peserta yang berasal dari + 30 negara di kawasan Eropa, Asia dan Amerika Utara. Untuk tahun 2007 ini delegasi dari kawasan Afrika (Afrika Selatan dan Nigeria) dan Amerika Latin (Chile dan Argentina) tidak hadir diperkirakan karena biaya yang tinggi mengingat jauhnya perjalanan dari kawasan-kawasan tersebut. Para peserta berasal dari lembaga dan institusi militer maupun sipil yang menangani test untuk seleksi personel militer, terutama pemeriksaan psikologi serta penyiapan kader pimpinan di masing-masing angkatan bersenjatanya. Ada 108 makalah yang dipresentasikan oleh para anggota delegasi yang mengikuti kongres IMTA, termasuk dari Dispsiad dengan judul Penerapan Metoda Assessment Center di TNI AD - pada dasarnya berisi sejarah penerapan Assessment Center di Dispsiad/Indonesia dan tantangannya ke depan.

 

Konferensi IMTA ke 50 tahun 2008 diikuti oleh 197 peserta yang berasal dari + 30 negara dari kawasan Eropa, Asia, Amerika Utara, Australia dan Afrika (hanya Afrika Selatan). Peserta yang hadir dari kalangan sipil dan militer dari institusi ‘psikologi’ (pengguna tes-tes psikologi dan terapannya) di lingkungan angkatan bersenjata, namun ada juga yang berasal dari luar angkatan bersenjata berupa lembaga-lembaga konsultan riset yang merupakan partner/mitra kerja institusi psikologi dari angkatan bersenjata di negara tersebut. Ada 90 makalah yang dipresentasikan oleh para anggota delegasi yang mengikuti konferensi IMTA, termasuk dari Dispsiad, yang memaparkan makalah ilmiah dengan judul “Pre-deployment psychological preparation for Indonesian Army units involved in border duties - Penyiapan psikologis pada masa pra-tugas bagi satuan-satuan TNI AD yang terlibat penugasan di perbatasan”.

 

Konferensi IMTA ke 51 tahun 2009 dilaksanakan di Tartu, Estonia. Kongres diikuti oleh 134 peserta yang berasal dari + 30 negara di kawasan Eropa, Asia dan Amerika Utara. Para peserta berasal dari lembaga dan institusi yang menangani test untuk seleksi personel militer, terutama test psikologi serta penyiapan kader pimpinan di masing-masing angkatan bersenjatanya. Ada 71 makalah yang dipresentasikan oleh para anggota delegasi yang mengikuti kongres IMTA, termasuk dari Dispsiad dengan judul “Bantuan psikologis pada penduduk yang menjadi korban gempa di Yogyakarta tahun 2006”.

 

Dispsiad merencanakan untuk mengirimkan delegasi ke Konferensi IMTA ke 52 dan pertemuan IMLA ke 6  tahun 2010 yang akan diselenggarakan di Lucerne Swiss pada tanggal 27 September s/d 1 Oktober 2010.  Pada tahun 2011, Indonesia menjadi tuan rumah konferensi IMTA ke 53, yang direncanakan akan diselenggarakan di Denpasar Bali, tanggal 6 s/d 11 November 2011.

 

Keikutsertaan Dispsiad dalam IMLA

 

Pertemuan IMLA ke 3 tahun 2007 dilaksanakan sehari setelah kongres IMTA selesai dengan panitia Pusat Kemimpinan AB Australia. Perwakilan TNI AD (Dispsiad) dan Pusat Kepemimpinan Angkatan Darat Swiss menjadi pengamat untuk diputuskan oleh rapat sebagai calon anggota IMLA. Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang perkembangan yang terjadi di masing-masing pusat kepemimpinan Angkatan Bersenjata anggota IMLA (Inggris, Belanda, Selandia Baru, Singapura, Kanada dan Australia) melalui paparan selama 20 menit oleh masing-masing perwakilan. Dari paparan tersebut, para peserta sepakat bahwa pada saat ini pusat kepemimpinan Angkatan Darat Selandia Baru memiliki program yang paling maju yang sudah diintegrasikan dengan sistem penilaian kinerja mereka. Di lain pihak Pusat Kepemimpinan Angkatan Bersenjata Singapura baru akan menyelenggarakan kursus kepemimpinan di tahun 2008, sedangkan Pusat Kepemimpinan Angkatan Bersenjata Inggris sudah menyelenggarakan kursus kepemimpinan berbasis psikologi bagi Pati bintang satu, dan mulai tahun 2008 akan menyelenggarakan kursus kepemimpinan bagi tingkatan kolonel. Perwakilan Inggris kemudian menawarkan para anggota IMLA untuk mengirimkan peserta untuk mengikuti kursus secara gratis atas biaya pemerintah Inggris. Panitia kemudian membagikan buku yang diterbitkan IMLA di tahun 2007, yaitu pengembangan kepemimpinan strategis (strategic leadership development) oleh masing-masing pusat kepemimpinan. Kemudian juga dibahas tentang rencana penulisan buku IMLA di tahun 2008 dengan topik profesionalisme militer menurut konsep Angkatan Bersenjata negara masing-masing, dan jika diterima sebagai anggota Dispsiad juga diminta untuk memberikan sumbangan tulisan. Di akhir pertemuan disampaikan bahwa para prinsipnya tidak ada masalah bagi Indonesia dan Swiss untuk diterima sebagai anggota IMLA dan disampaikan juga bahwa untuk tahun 2008, Angkatan Bersenjata Austria juga tertarik untuk menjadi anggota IMLA.

 

Pertemuan IMLA ke 4 tahun 2008 dilaksanakan sehari sebelum Kongres IMTA dilaksanakan, dengan penyelenggara dari Royal Netherlands Army School for Leadership and Education (RNASLE), dan Letkol Drs. Coen van den Berg sebagai Ketua Panitia Penyelenggara sekaligus pemandu pertemuan (Chairman). Rangkaian kegiatan Kongres sehari IMLA 2008 ini terdiri atas: pengantar umum kegiatan dari RNASLE, studi kasus kepemimpinan (workshop), diskusi kelompok lintas bangsa/institusi, paparan tiap-tiap kelompok, dan penutupan. Kasus yang dibahas dalam diskusi adalah ’etika pengambilan keputusan seorang Komandan’, dalam hal ini diangkat dari kisah nyata Komandan lapangan pasukan Belanda dalam misi penegakan perdamaian (peace-enforcing) dalam perang di Afganistan di propinsi Oruzgan, terkait dengan dilema pengambilan keputusan yang berhubungan dengan ’mengorbankan anak buah-melindungi masyarakat vs. melindungi anak buah-mengorbankan masyarakat’, ’perintah untuk menembak bagi anggota merupakan hasil konsultasi kolektif dengan anak buah vs. keputusan independen Komandan’, dan ’dapatkah kita yakin bahwa anak buah mampu dan mau melakukan tugas berisiko tinggi yang diperintahkan oleh Komandan dengan benar?’. Secara umum dapat disimpulkan bahwa kita harus yakin pada bekal latihan dan kemampuan anggota, Komandan harus dapat membuat keputusan secara mandiri karena ia memiliki wewenang untuk melakukannya, hirarki dan followership menjadi alat Komandan untuk memiliki otoritas, serta perlunya komunikasi dan pengenalan Komandan terhadap kemampuan anak buah. Dalam rangka menindak-lanjuti dan memperkaya hasil diskusi ini, maka rencana tema publikasi IMLA 2009 disepakati berkaitan dengan model pemecahan masalah dan pengambilan keputusan di kalangan militer, baik pada tingkatan strategis maupun operasional.

 

Pertemuan IMLA ke 5 tahun 2009 dilaksanakan sehari sebelum pelaksanaan Kongres IMTA dengan dihadiri oleh delegasi dari Kanada, Belanda, Swiss, Indonesia, Singapura, Australia, Belgia, Swedia, Inggris, Selandia Baru dan AS. Pertemuan diawali dengan paparan dari delegasi Kanada mengenai perkembangan dan permasalahan yang dialami lembaga kepemimpinan negaranya terkait dengan krisis ekonomi yang terjadi. Tidak banyak penelitian dan program yang dapat dijalankan, namun demikian lembaga ini tetap mendapatkan dukungan dari pimpinan Angkantan Bersenjatanya, dan perannya sudah diperhitungkan dalam kerangka pengembangan personel. Dari Australia dilaporkan bahwa pengembangan kepemimpinan yang dilaksanakan berfokus pada pemahaman mengenai etika serta dilema moril yang muncul pada prajurit. Pemahaman serta doktrin mengenai moril dan etika ini menjadi penting karena kedua hal ini ditenggarai sebagai sumber stres yang potensial dalam diri prajurit, terutama ketika mereka ditugaskan di medan operasi. Delegasi Singapura menyampaikan tentang metode penyampaian cerita (Story Telling)   dalam menanamkan doktrin tentang kepemimpinan kepahlawanan. Pada saat ini metoda ini dirasakan cukup bermanfaat karena dapat menimbulkan inspirasi dan insight (kesadaran) mengenai bagaimana cara bertingkah laku sebagai seorang pemimpin. Delegasi Belgia menyampaikan fokus penelitian mereka tentang pengambilan keputusan dari komandan terutama pada situasi-situasi kritis yang tidak dapat diprediksikan, bagaimana  mengukur efektivitas pengambilan keputusan dan kualitas kepemimpinan disaat kritis.

 

Sumbangan Tulisan  Dispsiad dalam IMTA dan IMLA

 

Keterlibatan Dispsiad dalam IMTA dan IMLA bukan hanya di kegiatan konferensi dan diskusi saja, melainkan juga turut menyumbangkan berbagai tulisan ilmiah.   Tulisan-tulisan tersebut antara lain :

 

         ”The Use of Assessment Center in The Indonesian Army”, disusun oleh Letkol Caj Drs. Gunawan, DESS dan Letkol Cku Eri Hidayat, MBA, MHRMC, dipaparkan pada konferensi IMTA ke 49 tahun 2007 di Australia.

 

         Psychological Service of the Indonesian Army : Psychological Support”, disusun oleh Kolonel Caj Drs. Ngurah Sumitra, Letkol Cku Eri Hidayat, MBA. MHRMC dan Mayor Caj Ardi Sutopo, S.Psi, dipresentasikan pada konferensi IMTA ke 50 tahun 2008 di Belanda.

 

         Psychological Assistance in Humanitarian Mission”, disusun oleh Kolonel Inf Drs. Joni Kuntara dan Kapten Caj Ahmad Trisuhadiana, S.Psi, dipresentasikan pada konferensi IMTA ke 51 tahun 2009 di Estonia.

 

         A People’s, Fighter, National and Professional Army : History, Challenges and the Development of Core Identity In The Indonesian National Army”, disusun oleh Letkol Caj Drs. Gunawan, DESS dan Letkol Cku Eri Hidayat, MBA, MHRMC, dimuat dalam buku “Professional Ideology and Development : International Perspectives”. (hal. 43-64). Kingston, ON: Canadian Defence Academy Press.

 

         ”Military decision-making for field commanders : The Indonesian National Army’s experience”, disusun oleh Letkol Cku Eri Hidayat, MBA. MHRMC,  Letkol Inf J. Putranto dan Mayor Caj Ardi Sutopo, S.Psi, dimuat dalam buku “Decision-making: International Perpectives”. (hal. 37-61). Kingston, ON, Kanada: Canadian Defence Academy Press.

 

 

 

Manfaat dari keikutsertaan dalam IMTA/IMLA

 

Organisasi IMTA/IMLA adalah wahana paling strategis, paling realistis dan mungkin paling ekonomis untuk saling tukar menukar informasi dan transfer ilmu antar lembaga  psikologi militer dan sipil dari berbagai negara memungkinkan Dispsiad untuk memperoleh informasi dan manfaat sebagai berikut :

 

a.        Pemeriksaan psikologi masih banyak digunakan oleh angkatan bersenjata di berbagai negara terutama untuk membantu dalam penyelenggaraan manajemen sumberdaya manusia, baik untuk keperluan rekrutmen, seleksi, maupun untuk pengembangan dan perawatan.

 

b.        Kemajuan perkembangan alat test psikologi, terutama yang terkait dengan seleksi, klasifikasi dan pengembangan kepemimpinan sangatlah pesat. Melalui konferensi tahunan IMTA dan IMLA, maka informasi tentang hal ini akan lebih mudah dan murah untuk didapat mengingat peserta konferensi banyak yang mempresentasikan hasil penelitian dan konsep-konsep terbaru di bidang tersebut.

 

c.        Aspek kepemimpinan dalam kehidupan militer memperoleh perhatian yang cukup besar dari lembaga dan institusi yang membidangi manajemen sumberdaya manusia di angkatan bersenjata berbagai negara peserta konferensi IMTA sehingga berdirilah IMLA sebagai wahana untuk saling bertukar informasi mengenai pengembangan dan pembinaan kepemimpinan militer.

 

d.        Adanya kesempatan untuk menjalin kerjasama antar lembaga/institusi peserta IMTA/IMLA dalam menyelenggarakan penelitian dan pengembangan alat ukur pemeriksaan psikologi, peningkatan profesionalitas personel penyelenggara fungsi psikologi melalui pendidikan dan kursus, penelitian dan pengembangan kepemimpinan militer maupun pertukaran informasi berkaitan dengan penerapan psikologi dalam lingkungan militer secara umum.

 

e.        Membuka kesempatan bagi Dispsiad untuk memperkenalkan peran psikologi di lingkungan Angkatan Darat, Tentara Nasional Indonesia maupun lingkungan masyarakat Indonesia.

 

 

 

Penutup

 

Menginjak usianya yang ke 60 tahun, Dispsiad terus berupaya untuk semakin meningkatkan sumbangsihnya bagi Angakatan Darat, TNI dan masyarakat Indonesia pada umumnya.  Dengan menjadi anggota IMTA dan IMLA, terbuka peluang bagi Dispsiad untuk memperoleh informasi terkini mengenai pemanfaatan psikologi dan pengembangan kepemimpinan di lembaga militer negara lain, untuk turut serta dalam pengembangan disiplin ilmu psikologi dan juga untuk meningkatkan citra positif Angkatan Darat, TNI dan Indonesia di mata internasional.  Semoga di tahun-tahun mendatang Dispsiad semakin jaya.

 

 

 

Dirgahayu Dinas Psikologi Angkatan Darat.

 

 

Penulis :

 

Letkol Caj Drs. Gunawan, DESS, adalah Kasubdis Seleksi dan Klasifikasi Dispsiad, yang menyelesaikan program Sarjana S-1 di Fakultas Psikologi Unpad Bandung (1989) dan program Magister S-2 di DESS Psychology du Travail Universite Pierre Mendes de France Grenoble 2, Grenoble Perancis (1995). Pendidikan militer yang pernah diikuti antara lain adalah Sepamilwa ABRI Gel. I (1985/1986), Suslapa I Ajen (1996/1997), Selapa Ajen (1999/2000), Seskoad (2002) dan Suspaintelstrat(2006).