Oleh : Kolonel Inf Drs. Irwan Amrun, M.Psi


Di lingkungan TNI AD dikenal akrab istilah tri pola dasar pendidikan, yang menekankan pada aspek kepribadian, akademik, dan jasmani.  Suatu kondisi ideal merupakan suatu keseimbangan harmoni yang sangat diperlukan dan dipersyaratkan bagi setiap prajurit, dan tentunya berlaku bagi setiap individu. Ilmu Psikologi yang mempelajari perilaku manusia juga memberikan kontribusinya kepada ketiga aspek tersebut, namun pada tulisan ini lebih dititik beratkan pada bidang jasmani melalui pendekatan psikologi olah raga.  Penerapan psikologi dalam bidang olahraga ini ditujukan untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan seoptimal mungkin dan mengurangi adanya kendala yang ada dalam kepribadiannya.
Sebelum membahas lebih tentang psikologi olah raga ada baiknya sekilas kita mempelajari sejarah Olimpiade Kuno (1300  – 776 Sebelum Masehi).
Pada mulanya olimpiade adalah bagian dari ritual keagamaan bangsa Yunani (Greece) dan koloninya untuk menyembah dan memuja dewa Zeus.  Setelah dilakukan ritual keagamaan di sebuah kuil di bukit  Kronus dikota Olimpia, selanjutnya dilakukan sebuah festival/lomba  olahraga yang diikuti oleh ratusan atlit bangsa Yunani yang dimaksudkan sebagai penghargaan dan rasa syukur bagi dewa Zeus.


 
Peserta dan penonton yang diijinkan berpartisipasi hanyalah kaum pria. Selama masa perlombaan berlangsung semua aktifitas peperangan dan sikap sikap permusuhan dihentikan dan dilarang.  Pemenang lomba diberikan mahkota yang terbuat dari daun Zaitun dan diberikan gelar pahlawan. Begitu dihormatinya para pemenang, sehingga sebuah peperangan akan berhenti bila “sang pemenang” melintas medan pertempuran.

Pada 393 Setelah Masehi Lomba di Olimpia dihentikan oleh kerajaan kristen yang berkuasa pada saat itu yaitu Theodore I.  Pada 426 Setelah Masehi Raja Theodore II menghancurkan kota Olimpia.  Selain itu kota Olimpia hancur & hilang akibat bencana alam.


Sejarah  Olimpiade Modern, Olympimsm & Gerakan Olympiade. 
Sejarah Olimpiade Abad 19 kembali pada tahun 1852, ketika arkeolog Jerman Ernst Curtius yang bekerja di reruntuhan Olympia menemukan kembali peninggalan kebudayaan kota Olimpia. Idenya untuk menghidupkan kembali olimpiade diterima oleh  Baron Pierre De Coubertin, seorang  bangsawan prancis. Dengan motto "The important thing is not to win, but to participate" pada tanggal 23 Juni 1884, ia memberikan gagasan untuk membangkitkan kembali Semangat Lomba Olimpia (Olympism) yang dipadukan dengan  penyelenggaraan pertandingan olah raga tingkat internasional (olympic games)  yang kemudian  dikenal dengan gerakan olimpiade (olympic movement).  Ide dasarnya adalah menciptakan kehidupan yang damai di dunia melalui kegiatan olah raga antar bangsa.  Olimpiade modern yang pertama diadakan di kota Athena pada tahun 1896 mengajak negara-negara di dunia untuk bersama menghidupkan kembali nilai &  kegiatan  Olimpiade sebagai solusi mengatasi krisis sosial, politik akibat dari konflik dan permasalahan di berbagai & antar Negara.  Kegiatan Olimpiade diharapkan dapat memberikan inspirasi dan semangat persaudaraan dalam upaya membangun resolusi perdamaian untuk mengatasi kekacauan yang terjadi di seluruh dunia.  Untuk maksud tersebut dan agar pelaksanaan aktifitas pergerakan olimpiade berjalan secara terpadu dan berkesinambungan  di seluruh dunia  maka ditetapkan piagam olimpiade (Olympic Charter).  Olympic Charter adalah prinsip-prinsip dasar, peraturan-peraturan dan anggaran rumah tangga yang telah tersusun secara sistematik yang dipakai sebagai pedoman oleh IOC.

Pokok Pokok Pikiran Gerakan Olimpiade adalah untuk :
o    Mempromosikan dan menyebar luaskan olahraga  dan nilai filosofisnya (olympism) sebagai dasar pembentukan fisik dan pengembangan moral manusia.
o    Mendidik generasi muda melalui olahraga  dalam semangat saling pengertian dan persaudaraan  yang lebih baik diantara mereka, sehingga   memungkinkan terbentuknya dunia yang lebih damai dan lebih baik.
o    Menyebar luaskan prinsip-prinsip Olimpiade keseluruh dunia, sehingga membentuk semangat internasional.
o    Mempertemukan atlet dunia dalam suatu festival olahraga empat tahunan, yaitu pertandingan olimpiade (Olympic Games).

Olympism Sebagai Pokok Pikiran
o    Olympism adalah dasar fundamental dan filosofi kehidupan yang mencerminkan dan mengkombinasikan keseimbangan antara jasmani (badan yang sehat) dan rohani    (kemauan, moral dan kecerdasan) serta mengharmonikan antara kehidupan keolahragaan, kebudayaan dan pendidikan, sehingga dengan demikian dapat diciptakan keselarasan kehidupan yang didasarkan pada kebahagiaan dan usaha yang mulia, nilai nilai pendidikan yang baik dan penghargaan pada prinsip-prinsip etika.
o    Tujuan Olympism adalah menempatkan olahraga dimana saja sebagai wahana  pembentukan manusia secara utuh yang harmonis dalam  usaha  membangun suatu masyarakat yang damai dengan saling menghormati. Untuk kepentingan ini gerakan olahraga berusaha secara sendiri-sendiri ataupun bekerjasama dengan organisasi yang terkait menciptakan  kegiatan-kegiatan dalam usaha membangun perdamaian yang abadi.

Simbol Gerakan Olimpiade Modern
 
Motto Pertandingan Olimpiade Modern
“(Citius) Lebih cepat……… (Altius) Lebih tinggi ….… (Fortius) Lebih kuat”
 
Di usulkan oleh Father Henri Didon, seorang guru dari Republik Dominika, salah seorang teman B.Pierre de Coubertin

Paradigma Gerakan Olympiade
o    Prestasi olahraga bukan yang utama bagi  atlet dalam suatu kompetisi, melainkan hasil dari proses keseluruhannya,  yaitu terbangunnya kemuliaan diri yang merupakan kombinasi & keseimbangan antara kualitas & keterampilan fisik (skill), sikap/kemauan (attitute), dan kecerdasan pikiran (knowledge) sebagai prinsip dasar hidup.  
o    Nilai-nilai olympiade (olympism) sebagai filosofi,  mengandung arti tidak ada pembedaan dalam hal; ras, suku, agama, ideologi & warna kulit, serta merupakan usaha untuk menciptakan  perdamaian dunia. 

7 (Tujuh)  Komponen Standar Dari Sasaran Pembentukan Moral Dalam Olympism
1.    Kesempurnaan Dalam Performansi (Excellence in performance)
2.    Berpartisipasi Dengan Kegembiraan & Kesenangan (Joy and pleasure in participation)
3.    Kejujuran dalam berkompetisi (Fairness of play) 
4.    Rasa Hormat Terhadap Sesama (Respect for other nations, cultures, religions, races and individuals)
5.    Pengembangan Kualitas Manusia (Human quality development)
6.    Belajar Secara Bersama & Terpadu (Leadership by sharing, training, working and competing together)
7.    Kedamaian Antara Bangsa (Peaceful co-existence between different nations peace)

Penjabaran Nilai-Nilai Gerakan Olimpiade & Olympism Secara Lebih Luas Dalam kehidupan mencakup :

•    Visioner (tujuan jangka panjang)
•     Peacefull (kedamaian)
•     No Discrimination (tidak diskriminatif)
•     Mutual Understanding (saling memahami)
•     Friendship (persahabatan)
•     Solidarity (solidaritas)
•     Fair Play (kejujuran,adil,wajar)

Jika nilai-nilai ini benar-benar dapat diaplikasikan dalam kehidupan, tentunya sangat berpengaruh signifikan pada situasi kehidupan kita, karena pada hakekatnya nilai-nilai juga merupakan nilai kehidupan yang bersifat general.   Demikian tingginya pengembangan nilai yang dihayati dalam dunia olah raga, senantiasa diikuti pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang tersebut.


Science & Technology in Sport  atau lebih dikenal dengan istilah sport science mempelajari olah raga dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, karena dari kegiatan sederhana saja, seperti menendang bola banyak aspek yang berpengaruh…”there’s a lot of science involved in the simple act of kicking a ball” dapat kita lihat dalam ilustrasi gambar di samping ini.
-    Strong mental approach
-    Highly developed tactical awareness (cognitive skills)
-    Average height : 170 to 185 cm
-    Excelent powers of recovery (VO2 max of 60 to 65)
o    Defenders    :  56 to 60
o    Midfielders    :  63 to 67
o    Attackers    :  57 to 61
-    Muscular power
-    Ability to execute movement and moves at high speed
-    Equipped with considerable skills and technical mastery





Dalam bagan berikut ini tampak jelas kompleksitas dan keterlibatan dalam berbagai disiplin ilmu untuk mencapai suatu prestasi puncak seorang atlet.  Pada kesempatan ini pembahasan akan difokuskan pada psikologi olah raga.
 
Psikologi Olah Raga
Psikologi olahraga pertama kali dikenalkan oleh Norman Triplett pada tahun 1898. Laboratorium Psikologi Olahraga pertama di dunia didirikan tahun 1920 oleh Carl Diem di Deutsce Sporthochschule di Berlin, Jerman.  Tahun 1925 Coleman Griffith dari Universitas Illinois mendirikan laboratorium psikologi olahraga di Kawasan Amerika Utara. Griffith tertarik pada pengaruh faktor-faktor penampilan atletis seperti waktu reaksi, kesadaran mental, ketegangan dan relaksasi otot serta kepribadian. Ia menerbitkan dua buah buku di dunia Psikologi Olahraga, yaitu The Psychology of Coaching (1926)  & The Psychology of Athletes (1928).   Pada tahun yang sama, di Eropa juga berdiri sebuah laboratorium Psikologi Olahraga yang didirikan oleh A.Z Puni di Institute of Physical Culture in Leningrad. Namun Setelah periode tersebut psikologi olahraga mengalami kemandegan dan baru pada tahun 1960-an psikologi olahraga kembali mulai berkembang. Perkembangan ini ditandai dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan membuka konsentrasi pengajaran pada Psikologi Olahraga. Puncaknya adalah pembentukan International Society of Sport Psychology (ISSP) oleh para ilmuan dari penjuru Eropa. Kongres internasional pertama diadakan pada tahun yang sama di Roma, Italia.  Di dunia olah raga terkenal suatu ungkapan sebagai berikut :
At the top level of the sport, where many athletes have equal physical ability, the difference between a great and a good performance or between winning and losing is often related to mental rather than physicsl abilities

Dari ungkapan tersebut jelaslah berapa penting dan signifikannya kondisi psikologi seorang atlet dalam mencapai prestasi optimalnya.Terlebih lagi jika kita dalami 7 (tujuh) Komponen Standar Dari Sasaran Pembentukan Moral Dalam Olympism, dan aplikasinya dalam sendi-sendi kehidupan yang sarat dengan nuansa psikologi.   Pendekatan psikologi dalam olah raga sebagai upaya mencapai prestasi yang maksimal seyogianya dipahami secara utuh dan menyeluruh melalui pemahaman psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, psikologi klinis, psikologi sosial, dan psikologi organisasi.  Berikut upaya pemahaman melalu fase pertumbuhan manusia.



No    Kelompok    Indikator Utama Fisik    Indikator Utama Psikologis
1    Anak-anak
(6-12 Th)     Pertumbuhan fungsi-fungsi motorik  (Tulang, otot, struktur tubuh)    -    Terbentuk sifat ingin bebas dan mandiri  Membuat keputusan sesuai pemikiran  mereka dan bersifat pribadi
-    Peningkatan keterampilan fisik
-    Peningkatan keterampilan bersosialisasi (sebaya)
-    Mulai memahami konsep nilai moral
-    Mulai memahami perbedaan dan peran Wanita/Pria
2    Remaja
(12-16 Th)     Pertumbuhan alat-alat reproduksi/sex (kelamin, payudara,bulu,suara,puber)    -    Ingin mencapai kesempurnaan diri
-    Membentuk hubungan lebih mendalam dengan rekan sebaya (Wanita maupun Pria)
-    Memahami peran dan fungsi sosial Wanita/Pria
-    Menonjolkan ego dan mencari jati diri
-    Keingintahuan dan minat belajar sangat tinggi
3    Dewasa
(16-21 Th)     Pemantapan pertumbuhan fungsi motorik dan reproduksi (struktur tubuh yang ideal & permanen)    -    Minat dan fungsi intelektual makin mantap
-    Egonya ingin bersatu dengan orang lain untuk  mencari  pengalaman-pengalaman baru
-    Terbentuk identitas diri dan sistem seksual yang permanen
-    Keseimbangan antar kepentingan diri dan orang lain
-    Tumbuh dinding pemisah antar “privacy vs public”
Melalui pemahaman fase perkembangan tersebut dan indikasi psikologi yang ditampilkan, maka pendekatan pelatihanpun perlu disesuaikan pada tuntutan perkembangan sesuai dengan fase pertumbuhan tersebut.

Pada Fase Anak-anak (6-12 Th)
•    Proses latihan perlu di-skenario-kan sebagai arena bermain (mendapatkan kesenangan & kebebasan bergerak)
•    Mengembangkan keterampilan gerak fisik/teknis  (motorik dan kelenturan)
•    Dorongan/motivasi diarahkan untuk membentuk kemandirian yang prestatif
•    Pengembangan nilai- nilai sosial dan kerjasama
•    Penanaman nilai -nilai moral (kejujuran, sportifitas , respek dan saling menghargai)

Pada Fase Remaja (12-16 Th)
•    Proses latihan sebagai proses membentuk jati diri
•    Mengembangkan keterampilan teknis dan taktis
•    Dorongan/motivasi diarahkan untuk membentuk prestasi tertentu
•    Pengembangan daya juang dan saing dalam berkompetisi
•    Penanaman nilai- nilai profesional seorang atlit (pengetahuan, keterampilan dan sikap)

Pada Fase Dewasa (16-21 Th)
•    Proses latihan sebagai proses pemantapan menuju prestasi puncak
•    Mengembangkan keterampilan teknis, taktis dan strategis
•    Dorongan/motivasi diarahkan untuk mencapai dan mempertahankan target prestasi tertentu
•    Pemantapan dan pemeliharaan daya juang dan saing dalam berkompetisi
•    Pemantapan dan pemeliharaan sikap profesional seorang atlit berprestasi (intelektual, emosional, spriritual dan daya tahan)
Upaya yang dilakukan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut dengan sasaran kepada keterampilan psikologi (Psychological Skills) yang perlu dimiliki oleh atlet guna mendukung kerberhasilannya.  Terdapat 9 keterampilan psikologi yang perlu dimiliki untuk mendukung keberhasilan atlet sebagai berikut.
 
1.    Attitude / Sikap ……………Atlet yang Sukses :


Pembentukan sikap pada diri atlet merupakan harga yang pertama dan utama bagi setiap atlet. Melalui pembentukan sikap inilah kelak seorang atlet akan mengembangkan dirinya.  Dengan mengembangkan niat dan pikiran yang positif seorang atlet akan membentuk sikap sportifitas yang tinggi, senantiasa termotivasi untuk meraih prestasi maksimal yang dapat diraihnya.  Adanya masalah, hambatan dan kendala dalam berlatih maupun saat bertanding akan dihadapi sebagai tantangan yang harus diatasi dan dilalui karena merupakan suatu proses dalam menapak tangga jenjang prestasi yang lebih tinggi.   Dalam rangka pembentukan siakp ini, Dispsiad pada awal tahun 2005 menyelenggarakan Pendidikan Dasar (Dikdas) bagi atlet Muda PBSI selama 1 bulan di Pusdik Ajen & Secapa TNI AD.  Pembentukan sikap ini tentunya perlu dipelihara pada saat atlet tersebut telah menjalani program di Pelatnas, sehingga prinsip bertahap, bertingkat, dan berlanjut tetap terpelihara sesuai dengan perencanaannya.
2.    Motivation / Motivasi
  
Memelihara motivasi tidak bisa dengan sekedar mendatangkan seorang motivator ataupun inspirator, namun proses motivasi ini harus benar-benar tertanam dalam diri atlet sampai dengan terjadi proses internalisasi.  Dalam pelatihan psikologi dikenal adanya AMT (Achivement Motivation Training).  Upaya pelatihan dapat dijadikan intervensi awal, dan selanjutnya peran dari para pelatih dan pengurus


3.    Goals and Commitment /Sasaran dan Komitmen

 

       

Sebagai makhluk sosial setiap atlet  juga perlu memiliki kecakapan sosial.  Meskipun beberapa cabang olah raga sangat bersifat individual, namun  bukan berarti atlet tersebut tidak memerlukan kecakapan sosial.  Komunikasi dan relasi dengan lingkungan sosial, termasuk sesama atlet, dengan pelatih, manager, dan yang lainnya sangat diperlukan dalam proses pengembangan diri.

    

4.    People Skill / Kecakapan Sosial
Atlet yang sukses:
•    Menyadari bahwa ia adalah bagian dari suatu sistem yang besar, dimana di dalamnya terdapat keluarga, teman, sesama atlit, pelatih, dll.
•    Mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya dan kebutuhan kepada orang-orang di sekelilingnya sekaligus mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan pikiran dan perasaan orang lain
•    Menangani konflik sesuai dengan situasi yang ada
Keterampilan psikologi berikut merupakan tingkat lanjutan yang diperlukan dan dapat dilatih melalui PST (Psychological Skills Training).

5.    Self Talk / Sugesti Diri.   Mensugesti diri diperlukan untuk menumbuhkembangkan keyakinan pada diri sendiri dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapi.  Melalui suatu kalimat positif yang dilatihkan dan diyakini mampu memberikan sugesti diri tersebut akan membuahkan hasil yang luar biasa.
Atlet yang sukses:
•    Tetap percaya diri saat menghadapi situasi yang sulit melalui sugesti diri yang realistis dan positif
•    Berbicara pada diri sendiri seolah-olah berbicara pada sahabat  terbaik
•    Selama pertandingan menggunakan sugesti diri untuk mengolah perasaan, pikiran dan tingkah laku
6.    Mental Imagery / Imajeri.  Imagery merupakan suatu proses latihan didalam pikiran yang memungkinkan untuk menciptakan, merubah atau meningkatkan saluran-saluran yang penting bagi koordinasi otot-otot.  Imajinasi merupakan kekuatan pengarah dari imagery.  Ada pendapat bahwa sesuatu peristiwa tersebut terjadi dua kali, yang pertama ada dalam bayang (imagery) kita, yang berikutnya adalah dalam realitanya.  Latihan imagery diperlukan atlet dapat menampikan performa sesuai yang ada dalam bayangannya.  Semakin kuat dan  nyata imagery  tersebut tercipta semakin dekat realita akan didapatkan.      Imagery berlandaskan pada prinsip penting, yaitu dapat melatih  bagian-bagian otak ini dengan masukan-masukan dari imajinasi dan bukan dari pancaindera Anda.  Dengan cara yang serupa, bagian-bagian otak yang dilatih dengan imagery meneri¬ma masukan-masukan dari imajinasi dan masukan-masukan dari lati¬han fisik, tapi masukan-masukan dari latihan fisik dialami secara lebih jelas.      Dengan demikian, paling tidak dalam bentuk yang paling kurang efektif, dapat menggunakan imagery yang benar-benar sebagai pengganti dari latihan sebenarnya.  Bahkan dalam tingkat penggu¬naan yang paling sederhana ini imagery merupakan pelatihan yang berguna pada saat :
•    Atlet cedera dan tidak dapat berlatih dengan cara yang lain.
•    Peralatan yang sesuai tidak ada, atau alasan lainnya sehing¬ga tidak dapat melaksanakan latihan.
•    Diperlukan latihan yang cepat.
Walaupun demikian, menggunakan imagery hanya untuk alasan-alasan di atas sangat menurunkan nilai kegunaan dari imagery itu sen¬diri.      Kekuatan imagery yang sebenarnya terdiri dari hal-hal yang lebih canggih sebagai berikut :
•    Memungkinkan untuk berlatih dan mempersiapkan pertandingan dan kesempatan yang tidak pernah dapat diduga jika berla¬tih dalam kenyataan.
•    Memungkinkan untuk mempersiapkan dan berlatih re¬spon-respon terhadap masalah-masalah fisik dan psikologik yang biasanya tidak muncul, agar dapat berespon  terhadap berbagai masalah secara lebih percaya diri dan mahir.
•    Memungkinkan untuk mengalami lebih awal pencapaian  tujuan.  Hal ini membantu dengan memberikan Anda kepercayaan diri bahwa tujuan-tujuan tersebut dapat dicapai, sehingga Anda dapat meningkatkan kemampuan Anda ke tingkatan yang mungkin belum Anda capai.
Berlatih dengan imagery membantu Anda untuk memperlambat ketram¬pilan-ketrampilan yang kompleks sehingga Anda dapat memisahkan dan merasakan komponen-komponen gerakan yang benar dari ketrampi¬lan-ketrampilan tersebut, serta memisahkan tempat masalah-masalah teknik.
Imagery dapat pula digunakan untuk mempengaruhi beberapa aspek dari respon-respon yang "tidak disadari" seperti pengeluaran hormon adrenalin.  Penggunaan seperti ini sangat dikembangkan pada mistik-mistik di belahan Timur, yang menggunakan imagery dengan cara yang sangat efektif untuk mengurangi misalnya denyut jantung atau konsumsi oksigen.
Atlet yang sukses:
•    Membayangkan  penampilan terbaik sebagai persiapan menjelang pertandingan
•    Menciptakan dan menggunakan Imajeri yang detil, spesifik, dan realistis
•    Menggunakan Imajeri selama pertandingan sekaligus sebagai upaya bangkit kembali dari penampilan yang buruk

7.    Dealing effectively with Anxiety/Mengelola Kecemasan.  Ada kecemasan yang bersifat negatif yang menghasilkan energi negatif pula, sehingga berdampak kontra produktif.  Mengelola kecemasan yang ada pada dirinya menjadi energi positif yang mendorong dirinya untuk menampilkan performa terbaiknya.
Atlet yang sukses:
•    Dapat menerima kecemasan sebagai bagian dari olahraga
•    Pada tingkat tertentu kecemasan dapat membantu meningkatkan prestasi
•    Mengetahui cara mengurangi kecemasan yang berlebihan

8.    Dealing Effectively with Emotions /Mengelola emosi secara efektif.  Tanpa bermaksud mengecilkan aspek pribadi lainnya seperti aspek intelektual, mengelola emosi sangat dipercaya dapat memberikan dampak yang sangat luar biasa dalam mendukung keberhasilan seseorang.






Permasalahan kecemasan dan emosi ini terkait erat dengan keadaan tegang yang dialami oleh atlet.  Meskipun tampil tampak tenang-tenang, namun sebenarnya  tegang atau sebaliknya. Atlet yang tegang biasanya akan mengalami perubahan-perubahan fisiologis pada waktu menjelang pertandingan, misalnya telapak tangan basah karena berkeringat, otot-otot menjadi tegang, tremor otot-otot, kedipan mata semakin sering, pernafasan menjadi lebih cepat dan dangkal, mual, perut  mulas,  pening,  sering  buang air kecil. Rasa takut atau tegang bisa juga menampakkan diri secara psikologis atau tercerminkan dalam perilaku atau pembicaraannya, misal :
a.    Mudah merasa terganggu (risi)
b.    banyak memperbincangkan kekurangan atau kelemahan mereka
c.    mengeluh kondisi fisiknya yang kurang baik.
d.    percakapan lebih emosional dibandingkan

Baik atlet maupun pelatih sebaiknya mengetahui dan mengerti akan pertanda-pertanda kecemasan tersebut.  Dengan demikian ia akan dapat mengelola para atlet dengan lebih bijaksana sehingga nasehat dan petuahnya akan dapat dilakukan secara lebih efektif. Beberapa teknik yang dapat membantu menurunkan atau mengurangi ketegangan atlet, antara lain :
a.    Teknik Jacobson dan Schultz, yaitu dengan mengurangi arti pentingnya pertandingan dalam benak atlet atau mengurangi ancaman hukuman kalau atlet gagal.
b.    Teknik Cratty, yaitu dengan menyusun suatu urutan (hierarki) kecemasan yang dialami atlet, dari yang paling ditakuti sampai dengan yang paling tidak ditakuti oleh atlet. Pada permulaan, atlet dihadapkan pada situasi yang paling sedikit membangkitkan kecemasan, setelah atlet terbiasa dan tidak takut lagi dengan situasi tersebut, dia kemudian dilibatkan pada situasi takut yang agak lebih berat. Demikian seterusnya.
c.    Teknik Progressive Muscle Relaxation dari Jacobson, yaitu latihan yang memaksa otot-otot tegang dijadikan relaks.
d.    Teknik Autogenic Relaxation, yaitu teknik relaksasi yang menekankan pada sugesti diri (Self-Suggestion)
e.    Latihan Penafasan Dalam (Deep Breathing)
f.    Meditasi
g.    Berpikiran positif

9.    Concentration /Konsentrasi


Ada banyak cara untuk melakukannya, berikut ini adalah salah satu cara sederhana yang dirancang atlet John Syer & Christopher Connoly (1987).  Contoh latihan konsentrasi :
Duduk tegaklah di kursi, kedua kaki menapak di lantai dan kedua tangan di samping badan.  Tutup mata, ambil napas dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan-lahan sampai ketegangan di sekujur tubuh hilang.  Begitu merasakan relaks, perhatikan irama nafas (tanpa mengubah iramanya), lalu mulailah perlahan-lahan menghitungnya. Satu tarikan nafas diikuti satu hembusan nafas dihitung sebagai satu, kemudian tarikan dan hembusan nafas berikutnya sebagai dua, dan seterusnya.  Saat mencapai hitungan ke sepuluh, kembali lagi ke hitungan satu dan seterusnya. Jika Anda kehilangan hitungan atau lupa angka hitungannya berarti konsentrasi mulai terganggu, karena itu berhentilah menghitung barang sejenak, lalu setelah konsentrasi Anda kembali, mulailah lagi menghitung dari satu.  Sebagai permulaan, latihan ini cukup dilakukan dalam waktu delapan menit.   Semakin sering melakukan latihan konsentrasi ini maka kontrol diri terhadap situasi akan semakin kuat.
Untuk  mencapai kondisi psikologi yang prima, yaitu memiliki 9 keterampilan psikologi tersebut maka perlu dilakukan tahapan aplikasi intervensi psikologi dalam tahapan seperti tertera pada bagan berikut ini :











Kesimpulan
o    Pada setiap nafas kehidupan manusia tidak akan  pernah lepas dari kegiatan berolah raga, berolah pikir, dan berolah mental spiritual yang sangat diperlukan dalam menjaga kesimbangan yang harmoni.  Pada masing-masing kegiatan tersebut juga melibatkan aktivitas lainnya.  Sebagai contoh, olah raga disini bukanlah sekedar mengolah raga atau tubuh, melainkan merupakan suatu kegiatan yang sangat kompleks yang dapat dipelajari oleh berbagai disiplin ilmu, dan memiliki filosofi kehidupan.  Oleh karena itu, olah raga dapat pula digunakan untuk membangun karakter seseorang (Character Building).
o    Keseimbangan kondisi dari mind, body and spirit, keseimbangan kondisi akademi dan jasmani, keseimbangan dari berbagai peran yang dimainkan dalam kehidupan merupakan faktor yang menentukan dalam meraih suatu keberhasilan yang hakiki.   Psikologi sebagai ilmu perilaku dapat memberikan kontribusi yang besar dalam berbagai aspek kehidupan, dan salah satunya adalah pada bidang olah raga.
o    Psikologi sangat diperlukan dalam mendukung upaya atlet untuk meraih prestasi puncaknya, selain  hal tersebut perlu upaya yang paripurna dari berbagai disiplin ilmu terkait, seperti pendidikan olah raga di sekolah-sekolah dan di masyarakat untuk mendukung keberhasilan atlet olah raga kita agar dapat meraih prestasi di tingkat internasional.
Salam Olah Raga……
Referensi
o    Dispsiad, Bahan Pelatihan & Pengajaran Psikologi Olah Raga
o    Gunarsa,S.D., Psikologi Olahraga Prestasi PT BPK Gunung Mulya ,Jakarta, 2007
o    Lilik Sudarwati Adisasmito, Mental Juara “Modal Atlet Berprestasi”, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007
o    Rita Sri Wahyusi  Subowo, Pidato Pengukuhan Doktor HC di Universitas Negeri Semarang
o    Thelma S.Horn., Advance In Sport Psychology 3rd Edition, champaign 2008. Human Kinetics
o    Monty P.Satiadarma, Dasar-Dasar Psikologi Olah Raga, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 2000
o    Ohio State University – 9 Psychological Skills.
Penulis :
Kolonel Inf. Drs. Irwan Amrun, M.Psi…saat ini menjabat sebagai Kepala Subdinas Penelitian Materiil & Insani. Pendidikan  S 1& S 2 Psikologi dari Fakultas Psikologi UNPAD. Beberapa penugasan yang cukup lama ditekuni adalah sebagai psikolog dalam kegiatan olah raga seperti : pada tahun 1996-1997 sebagai Psikolog Persib, Pada tahun 2001-2003 sebagai Psikolog Tim AARM (TNI AD) dan Tim BISAM (TNI), Pada tahun 2004-2008 Psikolog PBSI dan Tim Psikologi Koni Olimpic Bejing pada tahun 2008. Salah satu Area of expertise  di bidang Sports Psychologist (Soccer, Shooting, Badminton, Martial Art)
Pendidikan Militer  :  Susreg Seskoad XXXV (1997/1998).