KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

DAN UPAYA PENCEGAHANNYA

 Oleh : Lembaga Perawatan Psikologi

Perempuan bukan diciptakan dari tulang ubun-ubun,
karena berbahaya jika membiarkannya dalam sanjung puja
Bukan pula diciptakan dari tulang kaki ,
karena nista, diinjak dan diperbudak

Melainkan Perempuan diciptakan dari tulang rusuk kiri,
dekat di hati untuk dicintai, dekat dg tangan untuk dilindungi.. 
selama-lamanya......

 

LATAR BELAKANG

  • Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) telah menjadi agenda bersama dalam beberapa dekade terakhir. Fakta menunjukan bahwa KDRT memberikan efek negatif yang cukup besar bagi wanita sebagai korban.
  • Kekerasan Terhadap Perempuan telah mendefinisikan KDRT dalam bingkai gender sebagai ”kekerasan yang dilakukan di dalam lingkup rumah tangga dengan target utama terhadap perempuan dikarenakan peranannya dalam lingkup tersebut.
  • Latar belakang munculnya analisa permasalahan gender adalah karena adanya observasi, “Daripada menanyakan kenapa pihak pria memukul, terdapat tendensi untuk bertanya kenapa pihak perempuan hanya berdiam diri ... ”

Pengertian Kekerasan Dalam Rumah Tangga, adalah setiap perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan serta melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

 

BENTUK-BENTUK KDRT

Kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan psikologis/emosional, kekerasan seksual, kekerasan ekonomi dan kekerasan spiritual.

  • Secara fisik. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan dan pengaruhnya pada korban.  Umumnya menyebabkan cedera fisik pada korban seperti : menampar, memukul, menjambak rambut, menendang, menyundut dengan rokok, melukai dengan senjata, bahkan bisa menyebabkan cacat menetap hingga kematian.
  • Secara psikologis. Merupakan bentuk kekerasan dengan sengaja dilakukan pelaku pada korban dengan tujuan untuk mempertahankan atau menguasai korban. Secara psikologis seperti : penghinaan, komentar-komentar yang merendahkan, melarang istri mengunjungi saudara maupun teman-temannya, mengancam akan dikembalikan ke rumah orang tuanya, dll.
  • Secara seksual. Definisi kekerasan seksual adalah memperdaya seseorang (termasuk anak-anak) untuk tujuan seksual dengan menggunakan tekanan fisik atau psikologis. Bentuknya dapat terjadi seperti pemaksaan dan penuntutan hubungan seksual.
  • Secara ekonomi/penelantaran rumah tangga, kekerasan terjadi berupa tidak memberi nafkah istri, melarang istri bekerja atau membiarkan istri bekerja untuk dieksploitasi. Menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya menurut hukum yang berlaku wajib bagi suami memberikan kehidupan, perawatan, atau memelihara kepada orang tersebut. Tindakan setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada dibawah kendali orang tersebut.
  • Secara spiritual, bentuk ini tampak dalam tingkah laku atau pengajaran pelaku yang terlibat organisasi keagamaan dengan menggunakan cara pemaksaan pada korban. Jenis-jenis kekerasan di atas dapat berlaku tunggal atau sekaligus beberapa bentuk kejadian.

 

Kekerasan = Kriminalitas

Kekerasan atau kejahatan sendiri dipicu oleh dua faktor, yaitu :

  • Faktor dari individu itu sendiri. Dalam hal ini karena tidak adanya ketaqwaan pada individu-individu terhadap ajaran agama yang dianut, lemahnya pemahaman terhadap relasi suami-istri dalam rumah tangga, dan karakteristik individu yang temperamental adalah pemicu bagi seseorang untuk melakukan pelanggaran, termasuk melakukan tindakan KDRT.
  • Faktor sistemik. Kekerasan yang terjadi saat ini sudah menggejala menjadi penyakit sosial di masyarakat, baik di lingkungan domestik maupun publik. Kekerasan yang terjadi bersifat struktural yang disebabkan oleh berlakunya sistem yang tidak menjamin kesejahteraan masyarakat, mengabaikan nilai-nilai etika dan mengesampingkan perlindungan atas eksistensi manusia. Tak lain dan tak bukan ialah sistem kapitalisme-sekular yang memisahkan agama dan kehidupan. Penerapan sistem ini telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan asasi manusia, yaitu dari sisi ekonomi, hukum, sosial budaya dan pendidikan.

 

Lalu, apa arti dari gender?

Gender berasal dari bahasa Latin, yaitu “genus”, berarti tipe atau jenis. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.  Karena dibentuk oleh sosial dan budaya setempat, maka gender tidak berlaku selamanya tergantung kepada waktu (tren) dan tempatnya.

Apa perbedaan seks dan gender?

Gender ditentukan oleh sosial dan budaya setempat sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan oleh Tuhan.  Misalnya laki-laki mempunyai penis dan bisa memproduksi sperma, sementara perempuan mengalami menstruasi, bisa mengandung dan melahirkan serta menyusui.

Bagaimana bentuk hubungan gender?

Hubungan gender ialah hubungan sosial antara laki-laki dengan perempuan yang bersifat saling membantu atau sebaliknya, serta memiliki banyak perbedaan dan ketidaksetaraan. Hubungan gender berbeda dari waktu ke waktu, dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lain, akibat perbedaan suku, agama, status sosial maupun nilai (tradisi dan norma yang dianut).

Apakah ketidakadilan gender itu?

Ketidakadilan gender merupakan bentuk perbedaan perlakuan berdasarkan alasan gender, seperti pembatasan peran, penyingkiran atau pilih kasih yang mengkibatkan terjadinya pelanggaran atas pengakuan hak asasinya, persamaan antara laki-laki  dan perempuan, maupun hak dasar dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain.

Bagaimana sifat ketidakadilan gender?

Ketidakadilan gender dapat bersifat:

           Langsung, yaitu pembedaan perlakuan secara terbuka dan berlangsung, baik disebabkan perilaku/sikap, norma/nilai, maupun aturan yang berlaku.

           Tidak langsung, seperti peraturan sama, tapi pelaksanaanya menguntungkan jenis kelamin tertentu.

           Sistemik, yaitu ketidakadilan yang berakar dalam sejarah, norma atau struktur masyarakat yang mewariskan keadaan yang bersifat membeda-bedakan.

Bagaimana bentuk-bentuk diskriminasi gender?

           Marginalisasi (peminggiran).  Peminggiran banyak terjadi dalam bidang ekonomi.  Misalnya banyak perempuan hanya mendapatkan pekerjaan yang tidak terlalu bagus, baik dari segi gaji, jaminan kerja ataupun status dari pekerjaan yang didapatkan.  Hal ini terjadi karena sangat sedikit perempuan yang mendapatkan peluang pendidikan.  Peminggiran dapat terjadi di rumah, tempat kerja, masyarakat, bahkan oleh negara yang bersumber keyakinan, tradisi/kebiasaan, kebijakan pemerintah, maupun asumsi-asumsi ilmu pengetahuan (teknologi).

           Subordinasi (penomorduaan), anggapan bahwa perempuan lemah, tidak mampu memimpin, cengeng dan lain sebagainya, mengakibatkan perempuan jadi nomor dua setelah laki-laki.

           Stereotip (citra buruk) yaitu adanya pandangan buruk terhadap perempuan. Misalnya ibu-ibu persit yang bekerja mengakibatkan terlantarnya pekerjaan rumah tangga.

           Violence (kekerasan), yaitu serangan fisik dan psikis. Perempuan, pihak paling rentan mengalami kekerasan, dimana hal itu terkait dengan marginalisasi, subordinasi maupun stereotip diatas. Perkosaan, pelecehan seksual atau perampokan contoh kekerasan paling banyak dialami perempuan.

           Beban kerja berlebihan, yaitu tugas dan tanggung jawab perempuan yang berat dan terus menerus. Misalnya, seorang perempuan selain melayani suami (seks), hamil, melahirkan, menyusui, juga harus menjaga rumah. Disamping itu, kadang ia juga ikut mencari nafkah (di rumah), dimana hal tersebut tidak berarti menghilangkan tugas dan tanggung jawab diatas.

 

KDRT dari sudut Pandang Psikologi

 

            Secara teori dalam ilmu psikologi, Maslow menyebutkan bahwa manusia memiliki lima tingkat kebutuhan dalam hidupnya, yaitu:

 

·                  Kebutuhan yang paling dasar untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, yaitu sandang, pangan  dan papan.

·                  Kebutuhan akan rasa aman dan tentram.

·                  Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi.

·                  Kebutuhan untuk dihargai.

·                  Kebutuhan untuk aktualisasi diri.

 

Dalam berbagai kasus KDRT, pemenuhan kebutuhan tersebut di atas terabaikan. Pelaku kekerasan melakukan tindakan yang meniadakan hak-hak korban, seperti menelantarkan istrinya (bukan karena tak mampu, tapi karena tak mau), memukul dan menampar, mempermalukan korban di depan umum, menyeleweng dan lain sebagainya.

 

Apa Dampaknya bagi korban KDRT?

            Kekerasan pelaku KDRT dapat menimbulkan stres kepada korbannya, yang biasanya menimbulkan keluhan dan akibat seperti :

·               Cemas dan penuh keraguan.

·               Selalu waspada dan tegang sehingga tidak pernah merasa santai.

·               Sulit tidur atau tidak dapat tidur.

·               Merasa tidak berdaya dan tidak ada yang menolong, serta merasa tidak mampu melepaskan diri dari pelaku.

·               Takut tidak dapat melindungi dirinya sendiri atau anaknya sehingga biasanya mereka menolak bantuan keluarga atau teman.

·               Tidak mampu membuat keputusan karena adanya rasa ketakutan yang amat tinggi.

·               Percaya bahwa memang nasipnya buruk (sehingga mengalami KDRT).

·               Seringkali teringat, membayangkan atau mengalami mimpi buruk tentang kekerasan.

·               Seringkali bereaksi secara emosional (menangis, ketakutan, atau bahkan tegang) ketika teringat kekerasan yang dialami.

 

Lebih jauh lagi, KDRT dapat menyebabkan:

·               Penderitaan secara mental yang berpengaruh buruk pada kepribadian korban.

·               Kehilangan rasa aman dan tentram.

·               Merasa kesepian dan terisolasi.

·               Kehilangan kepercayaan diri.

·               Tertekan secara ekonomi dan finansial.

·               Cedera atau cacat fisik (termasuk kontak seksual yang tidak diinginkan oleh korban), bahkan kematian.

Secara psikologis, ada beberapa hal yang bisa menyebabkan keretakan dalam rumah tangga dan wajib dihindari, yaitu:

 

·         Tidak Ada Rasa Hormat

Sesama pasangan harus saling menghormati meskipun ada perbedaan pendapat. Hal ini adalah wajar, karena masing-masing orang ingin dihargai. Apabila terhadap pasangan sudah tidak ada rasa saling menghormati, maka tidak akan ada kasih sayang dalam keluarga.

·         Berbohong

Kalau tidak ingin dibohongi oleh pasangan, maka jangan bohongi pasangan Anda. Kejujuran adalah kunci dari sebuah hubungan, jadi harus dijaga sebaik-baiknya. Sekali Anda berbohong, akan terulang kebohongan berikutnya dan seterusnya.

·         Adanya  tindak kekerasan

Jangan melakukan tindak kekerasan seperti memukul pasangan. Selain akan ada penyesalan, juga akan berurusan dengan hukum / negara.

·         Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu keretakan dalam rumah tangga, karena tingginya tingkat kebutuhan dewasa ini. Upaya pencegahan adalah dengan menggunakan management keuangan. Dalam hal ini adalah melalui cara berdiskusi bersama pasangan, bukan dengan marah dan menuntut macam-macam. Dengan berkomunikasi maka akan ada suatu pengertian dan saling tenggang rasa yang baik untuk kelangsungan hidup berkeluarga.

·         Perselingkuhan

Hal ini terkadang yang sering menjadi pemicu terbesar retaknya keluarga. Entah rasa tidak puas terhadap pasangan, atau sensasi tersendiri yang menjadi pemicu perselingkuhan dalam rumah tangga. Untuk itu, jauhi perbuatan ini jika Anda menginginkan perkawinan senantiasa bahagia.

 

Upaya Penanggulangan KDRT dapat bersifat :

·         Internal, adalah upaya yang dapat dilakukan oleh individu itu sendiri (dalam hal ini adalah pasangan suami istri).

·         Eksternal, adalah upaya yang dapat dilakukan oleh pihak luar pasangan suami istri (dalam hal ini adalah Pemerintah).

 

Internal

            Kebahagiaan perkawinan adalah suatu hal yang mampu membuat hidup itu terasa tenteram, bahagia, nyaman, aman dan damai. Apalagi bila kebahagiaan itu dapat dirasakan dalam waktu lama. Untuk membuat kebahagiaan itu bertahan lama, perlu pemeliharaan yang dilakukan dengan langkah dan tidakan yang hati-hati dan tidak sembarangan.  

Beberapa tips yang dapat dilakukan oleh pasangan suami istri agar suatu rumah tangga menjadi tentram, nyaman dan bahagia :

  • Menciptakan komunikasi harmonis dengan rasa saling menerima bagi pasangan suami istri.
  • Saling memahami satu sama lain dengan saling menerima baik sisi positif maupun sisi negatif atau menerima kekurangan maupun kelebihannya.
  • Saling mengingatkandan memberi masukan yang baik antara pasangan suami istri.
  • Menumbuhkan rasa saling percaya antara pasangan/ jangan saling mencurigai.
  • Pasangan Suami istri adalah partner. Dalam hal ini pasangan suami istri harus sama-sama sadar bahwa pasangan bukanlah bawahan dan atasan.
  • Tatap masa depan. Jangan mengungkit-ungkit masa lalu karena hidup hari ini bukan milik masa lalu. Lebih baik, arahkan hubungan untuk masa kini dan masa depan.

 

 

Eksternal

Dalam hal ini adalah upaya yang dapat dilakukan oleh pihak pemerintah dalam mengatasi permasalahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh Pemerintah :

·         Menyelenggarakan komunikasi,informasi, dan edukasi tentang pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, seperti seminar, penyuluhan, dll.

·         Dibentuknya Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) yang diatur secara komprehensif, jelas, dan tegas untuk melindungi dan berpihak kepada korban, serta sekaligus memberikan pendidikan dan penyadaran kepada masyarakat dan aparat bahwa segala tindak kekerasan dalam rumah tangga merupakan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan.

 

 

Harapan dibentuknya UU PKDRT agar masyarakat luas lebih :

·         Memahami dan menghormati hak-hak asasi manusia.

·         Adanya toleransi yang didasarkan atas perilaku kesetaraan dan keadilan gender dalam setiap rumah tangga sehingga terhindar dari kekerasan dalam rumah tangga.

·         Penegakan hukum dan aparat terkait penanganan korban kekerasan dalam rumah tangga akan lebih sensitif dan responsif terhadap penanganan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga.

 

UU PKDRT ini melindungi setiap orang yang berada dalam ruang lingkup rumah tangga, yaitu :

·               Suami, istri dan anak.

·               Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada poin pertama.

·               Karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga, dan/atau,

·               Orang–orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

 

Keharmonisan adalah suasana yang selalu didambakan setiap pasangan suami-istri. Hubungan yang harmonis akan membuat pasangan mampu menghadapi apapun situasi yang terjadi. Kemesraan yang sudah terjalin pun akan selalu terjaga dan tetap hangat. Rumah tangga juga akan terhindar dari cekcok dan konflik yang menyebabkan terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga.