MEMBENTUK KEMANDIRIAN ANAK (REMAJA)

Oleh : Lembaga Perawatan Psikologi

           

            Ketika terlahir manusia berada dalam keadaan lemah. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sangat tergantung pada bantuan orang-orang disekitarnya. Berlanjutnyaperkembangan mengantarkan seorang anak pada masa remaja. Pada masa ini kebutuhan hidup lebih beragam dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Pada masa sekolah tingkat menengah atas, anak sedang mempersiapkan diri menuju proses pendewasaan diri. Anak melalui tahun-tahun terakhir masa pendidikan dasar dan menengahnya untuk kemudian melangkah menuju dunia peguruan tinggi atau meniti karier.

Ada banyak pilihan bagi mereka dan hendaknya seorang remaja dapat secara mandiri menentukan pilihan tanpa menggantungkan diri pada orang-orang di sekitarnya untuk menentukan pilihan yang akan diambilnya, termasuk dalam memenuhi kebutuhannya. Untuk memenuhi kebutuhannya diperlukan kemampuan yang lebih berkembang. Dengan kemampuannya, seorang remaja berkesempatan melakukan banyak hal tanpa harus selalu tergantung pada orang-orang di sekitarnya, termasuk orang tua maupun teman sebaya.

Mencapai kemandirian merupakan salah satu tugas perkembangan pada masa remaja. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Mappiare (1982:99) bahwa remaja dituntut untuk tidak selalu tergantung pada orang tua atau orang dewasa lainnya secara emosional, mampu mengatur keuangannya sendiri dan dapat memilih serta mempersiapkan dirinya ke arah pekerjaan atau jabatan.Pencapaian kemandirian tersebut sangat penting bagi remaja, karena hal itu sebagai tanda kesiapannya untuk memasuki fase berikutnya dengan berbagai tuntutan yang lebih beragam sebagai orang dewasa. Kegagalan dalam pencapaian kemandirian dapat berdampak negatif pada diri remaja. Ketergantungan pada orang lain menyebabkan seorang remaja selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan sendiri, tidak percaya diri, mudah terpengaruh oleh orang lain hingga akhirnya mengalami kesulitan untuk menemukan identitas diri.

Dalam usaha pencapaian kemandirian remaja sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, terutama dari lingkungan keluarga sebagai lingkungan terdekatnya. Diharapkan para remaja mampu mewujudkan kemandirian sebagai bekalmenghadapi tantangan dan tugas perkembangan di masa berikutnya, yaitu masa dewasa. Akan tetapi sering kita jumpai banyak remaja yang duduk di bangku SMA masih menunjukkan perilaku sebaliknya. Bimbang memutuskan kegiatan ekstra yang akan diikuti, nyontek karena tidak percaya diri dalam mengerjakan tugas dan ulangan, ikut-ikutan teman dalam memilih program studi/jurusan, ragu-ragu dalam menyampaikan pendapat, bingung dan bimbang dalam memilih cita-cita atau pun studi lanjutan, dan sebagainya. Hal-hal tersebut merupakan tanda-tanda kurangnya kemandirian para remaja. Walaupun ada pula sebagian remaja yang lain mampu menunjukkan kemandirian yang diharapkan, namun fenomena tersebut perlu diwaspadai dan diupayakan pengubahannya karena dapat menyebabkan para remaja cenderung bergantung pada orang lain dan enggan memikul tanggung jawab.

Masa remaja atau masa adolensi menurut Mahmud (1990:42) berlangsung antara umur 12 sampai umur 18 tahun, masa remaja merupakan masa transisi menuju masa dewasa termasuk pula transisi dalam hal biologis, psikologis, sosial maupun ekonomis. Hurlock (1980:220) menyatakan minat pada kemandirian berkembang pada masa awal remaja dan mencapai puncaknya menjelang periode ini berakhir. Mappiare (1982:107) menyebut kemandirian dengan istilah kebebasan dan menyatakannya sebagai salah satu tugas perkembangan yang penting bagi remaja awal, mereka diharapkan melepaskan diri dari ketergantungan pada orag tua atau orang dewasa lainnya dalam banyak hal secara berangsur-angsur.

            Maslow dan Murray (Alwilsol, 2004:260-261) bahkan menyatakan kemandirian sebagai salah satu kebutuhan psikologis manusia. Dalam susunan hirarki kebutuhannya Maslow menyatakan kemandirian sebagai salah satu cara untuk memperoleh harga diri, kemandirian akan menjadikan seseorang menghargai dirinya sendiri. Maslow juga (dalam Ali & Asrori, 2004:111) membedakan kemandirian menjadi dua macam yaitu kemandirian aman dan kemandirian tidak aman. Kemandirian aman adalah kekuatan untuk menumbuhkan cinta kasih pada dunia, kehidupan dan orang lain, sadar akan tanggung jawab bersama dan tumbuh rasa percaya terhadap kehidupan. Kekuatan tersebut kemudian digunakan untuk membantu orang lain. Sementara yang dimaksud dengan kemandirian tidak aman adalah kekuatan pribadi yang dinyatakan dalam perilaku menentang dunia.

            Dari pernyataan Maslow tersebut dapat diketahui bahwa kemandirian yang diharapkan dimiliki para remaja adalah kemandirian yang aman, di mana para remaja percaya pada kemampuan dirinya dan tidak selalu berada dalam ketergantungan pada bantuan yang akan diberikan orang lain. Namun dalam kemandiriannya para remaja tetap memiliki keinginan untuk membantu sesama.

1.         Pengertian Kemandirian

           Kemandirian merupakan aspek kepribadian yang disinggung oleh para ahli psikologi dengan istilah yang berbeda-beda. Istilah yang biasa digunakan untuk menyebut kemandirian antara lain adalah kebebasan, otonomi, independen atau pun berdikari. Menurut Basri (2000:53) kemandirian berasal dari kata mandiri yang dalam bahasaJawa berarti berdiri sendiri. Dia menyatakan kemandirian dalam arti psikologis dan mentalisadalah keadaan seseorang yang mampu memutuskan atau mengerjakan sesuatu tanpa bantuanorang lain. Menurutnya kemampuan tersebut hanya mungkin dimiliki jika seseorangberkemampuan untuk memikirkan dengan seksama tentang apa yang akan dikerjakan ataudiputuskannya, baik dari segi manfaat atau keuntungannya dan dari segi negatif atau kerugianyang akan diakibatkannya. Menurut Havighurst (dalam Mu’tadin, 2002:2) menyatakan bahwa kemandirian seseorang meliputi aspek emosi, ekonomi, intelektual dan sosial, dan masih banyak lagi pendapat dari ahli-ahli lainnya.

            Berdasarkan definisi-definisi para ahli tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah kemampuan seseorang dalam bertindak untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya ataupun keinginannya tanpa bergantung pada bantuan orang lain, baik dalam aspek emosi, ekonomi, intelektual, dan sosial.

2.         Aspek - aspek Kemandirian

            Definisi para ahli tentang mandiri dan kemandirian tersebut di atas memberikan gambaran tentang aspek-aspek yang menyusun kemandirian. Pernyataan Basri menekankan aspek kognitif dan aspek psikomotor, sedangkan pernyataan Lie & Prasasti menekankan aspek psikomotor. Berbeda dengan kedua pendapat tersebut Gea (2002:146) menggambarkan adanya ketiga aspek tersebut dalam kemandirian sekaligus melalui definisinya dan hal tersebut ditegaskan dalam pernyataannya berikut:

Manusia mandiri biasanya mempunyai pengetahuan, menguasai keterampilan dan mempunyai kehendak yang kuat. Pengetahuan sebagai paradigma teoritis untuk memahami apa yang harus dilakukan dan mengapa harus melakukannya; keterampilan adalah bagaimana melakukannya dan kehendak yang kuat merupakan dorongan atau motivasi untuk melakukannya.

            Dengan berdasar pada pernyataan Gea di atas disimpulkan bahwa kemandirian mengandung tiga aspek berikut :

 

a.         aspek kognitif : yaitu aspek yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan dan keyakinan seseorang tentang sesuatu, misalnya pemahaman seorang siswa tentang prestasi akademik.

 

b.         aspek afektif : yaitu aspek yang berkaitan dengan perasaan seseorang terhadap sesuatu seperti halnya hasrat, keinginan atau pun kehendak yang kuat terhadap suatu kebutuhan, misalnya keinginan seorang siswa untuk berhasil atau berprestasi dalam hal akademik.

 

c.          aspek psikomotor : yaitu aspek yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya tindakan siswa yang berinisiatif belajar giat karena dia ingin memperoleh prestasi akademik.

           

3.         Ciri-ciri Kemandirian

Tentang ciri kemandirian Gea (2002:145) menyebutkan beberapa hal yaitu percaya diri, mampu bekerja sendiri, menguasai keahlian dan keterampilan, menghargai waktu dan bertanggung jawab. Sedangkan Havighurst (dalam Mu’tadin, 2002:2) menyatakan kemandirian seseorang meliputi aspek emosi, ekonomi, intelektual dan sosial. Kemandirian emosi ditunjukkan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi pada orang tua atau orang dewasa lainnya. Kemandirian ekonomi ditunjukkan dengan kemampuan mengatur sendiri perekonomiannya. Kemandirian intelektual ditunjukkan dengan kemampuan dalam mengatasi masalah, dan kemandirian sosial ditunjukkan dengan kemampuan berinteraksi dengan orang lain tanpa tergantung dan menunggu aksi dari orang lain.

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kemandirian pada remaja adalah percaya diri, mampu berinisiatif, mampu mengatasi masalah, mampu mengerjakan tugas pribadi, mampu mempertahankan prinsip mampu mengambil keputusan, hemat, mampu melaksanakan transaksi ekonomi, mempunyai perencanaan karier di masa depan, mampu mengontrol emosi, bebas secara emosi dari orang tua, mempunyai kehendak yang kuat, puas dengan keputusan sendiri, menghargai waktu, bertanggung jawab, mampu menghindari pengaruh negatif pergaulan, mampu menerima kritik, mampu menerima perbedaan pendapat, mempunyai hubungan baik dengan orang lain.

Ciri-ciri tersebut dapat dirinci sebagai berikut :

a.          Percaya diri; ini berarti dia percaya bahwa dia mampu mewujudkan keinginannya dengan usaha dan kekuatan yang dimilikinya. Percaya diri inilah yang menjadi sumber kemandirian.

b.         Mampu berinisiatif; orang yang mandiri mampu berinisiatif yaitu bertindak dengan keinginannya sendiri tanpa harus menunggu instruksi orang lain.

c.          Mampu mengatasi masalah atau hambatan; sebagai orang yang mampu berinisiatif orang yang mandiri mampu mengatasi masalah yang dihadapinya dengan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya.

d.         Mampu mengerjakan tugas pribadi; berarti dia dapat mengerjakan tugas-tuigas pribadinya tanpa bantuan orang lain.

e.          Mampu mempertahankan prinsip yang dimiliki dan diyakini

f.          Mampu mengambil keputusan; ketika dihadapkan pada bergagai pilihan dia dapat menentukan pilihan yang sesuai bagi dirinya sendiri tanpa tergantung pada orang lain.

g.          Hemat; dia dapat menggunakan uang yang dimiliki sesuai dengan kebutuhannya.

h.         Mampu melaksanakan transaksi ekonomi; orang yang mandiri mengetahui cara melakukan transaksi ekonomi dan dapat melakukannya.

i.          Mempunyai perencanaan karier di masa depan, termasuk mempunyai cita-cita profesi; yaitu mempunyai pilihan profesi/cita-cita yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.

j.          Bebas secara emosi dari orang tua; tidak tergantung pada orang tua atau orang dewasa lainnya dalam hal pemenuhan kebutuhan emosi.

k.          Mempunyai kehendak yang kuat; orang yang mandiri mempunyai tekad yang kuat dan tidak mudah berputus asa dalam upaya mewujudkan keinginannya.

l.          Puas dengan keputusan sendiri; orang yang mandiri mempertimbangkan manfaat maupun kerugian setiap keputusan yang diambilnya dan dia merasa puas dengan keputusannya sendiri.

m.         Menghargai waktu; orang yang mandiri akan selalu memanfaatkan waktu dengan baik, mengisi waktunya dengan kegiatan yang berguna

n.         Bertanggung jawab; orang yang mandiri akan bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya.

o.         Mampu menghindari pengaruh negatif pergaulan

p.         Mampu menerima kritik

q.         Mampu menerima perbedaan pendapat

r.          Mempunyai hubungan baik dengan orang lain.

 

4.         Terbentuknya emandirian dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Kemandirian

 

a.          Terbentuknya Kemandirian

Kemandirian bukanlah kemampuan yang dibawa anak sejak lahir, melainkan hasil dari proses belajar. Basri (2000:53) menyatakan bahwa kemandirian merupakan hasil dari pendidikan. Kartawijaya dan Kuswanto (2000:1) mengemukakan bahwa kemandirian anak harus dibina sejak anak masih bayi dengan penanaman disiplin yang konsisten sehingga kemandirian yang dimiliki dapat berkembang secara utuh. Secara singkat dikatakan bahwa kemandirian merupakan hasil dari proses belajar. Sebagai hasil belajar, kemandirian pada diri seseorang tidak terlepas dari faktor bawaan dan faktor lingkungan.

Tentang hal tersebut Ali dan Asrori (2004:118) menyatakan perkembangan kemandirian juga dipengaruhi oleh stimulus lingkungannya selain oleh potensi yang telah dimiliki sejak lahir sebagai keturunan dari orang tuanya. Kemandirian terbentuk oleh interaksi antara faktor bawaan dan lingkungan. Kemandirian dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi bawaan melalui latihan terus menerus dan dilakukan sejak dini. Proses belajar tersebut diawali dari lingkungan terdekat yaitu keluarga, dan pengalaman yang diperoleh dari berbagai lingkungan di luar rumah. Jika lingkungan mendukung tumbuhnya kemandirian pada masa kanak-kanak dan mengembangkannya pada masa remaja akan terbentuk pribadi mandiri yang utuh pada masa dewasa. Dan bila sebaliknya remaja tumbuh menjadi pribadi yang selalu menggantungkan diri pada orang lain, selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan dan bahkan tidak berani memikul tanggung jawabnya sendiri. Kemandirian semakin berkembang pada setiap masa perkembangan seiring pertambahan usia dan pertambahan kemampuan.

Lie & Prasasti (2004:8-103) memberikan gambaran perkembangan kemandirian dalam beberapa tahapan usia. Perkembangan kemandirian tersebut diidentifikasikan pada usia 0 – 2 tahun; usia 2 – 6 tahun; usia 6 – 12 tahun; usia 12 – 15 tahun dan pada usia 15 – 18 tahun.

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa sebenarnya sejak usia dini anak telah memiliki dorongan untuk mandiri. Mereka lebih senang bila bisa mengurus diri sendiri tanpa dilayani. Namun seringkali pengasuh dan orangtua sering menghambat keinginan dan dorongan mereka untuk mandiri dengan pengungkapan kasih sayang yang tidak tepat. Misalnya terlalu membatasi atau pun mengambil alih tanggung jawab dengan melakukan hal-hal yang sebenarnya anak-anak dapat melakukannya sendiri. Kemandirian merupakan hasil dari interaksi individu dengan lingkungan selama bertahun-tahun.

Dalam kehidupan seseorang terjadi interaksi dengan lingkungan. Melalui proses interaksi dengan lingkungannya individu memperoleh pengalaman yang dihayati melalui proses belajar. Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk pola-pola perilaku tertentu. Kebiasaan-kebiasaan perilaku mandiri membentuk pola mandiri yang menetap pada diri seseorang.

 

b.         Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Kemandirian

Sebagai hasil dari proses belajar pencapaian kemandirian dipengaruhi oleh banyak faktor, secara umum dapat digolongkan dalam dua kelompok yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi segala sesuatu yang dibawa anak sejak lahir yang merupakan bekal dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya meliputi bakat, potensi intelektual dan potensi pertumbuhan tubuhnya. Faktor eksternal adalah semua keadaan atau pengaruh yang berasal dari luar dirinya, sering disebut dengan faktor lingkungan (Basri, 2000:53-54).

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian kemandirian remaja dapat diuraikan sebagai berikut :

 

1.  Faktor Internal

     a.   Kondisi fisiologis

Kondisi fisiologis yang berpengaruh antara lain keadaan tubuh, kesehatan jasmani dan jenis kelamin. Pada umumnya anak yang sakit lebih bersikap tergantung daripada orang yang tidak sakit (Walgito, 2000:112). Selain itu sering dan lamanya anak sakit pada masa bayi menjadikan orang tua sangat memperhatikannya, anak yang menderita sakit atau lemah otak mengundang kasihan yang berlebihan dibanding yang lain sehingga dia mendapatkan pemeliharaan yang lebih (Prasetyo dan Sutoyo, 1989:63).

Jenis kelamin juga berpengaruh terhadap kemandirian remaja. Simandjuntak dan Pasaribu (1984:112) mengemukakan bahwa pada anak perempuan terdapat dorongan untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua, tetapi dengan statusnya sebagai gadis mereka dituntut untuk bersikap pasif, berbeda dengananak lelaki yang agresif dan ekspansif, akibatnya anak perempuan berada lebih lama dalam ketergantungan daripada anak laki-laki.

      b.  Kondisi psikologis

Walaupun kecerdasan atau kemampuan berpikir seseorang dapat diubah atau dikembangkan melalui lingkungan, sebagian ahli berpendapat bahwa faktor bawaan juga berpengaruh terhadap keberhasilan lingkungan dalam mengembangkan kecerdasan seseorang. Kecerdasan atau kemampuan kognitif berpengaruh terhadap pencapaian kemandirian seseorang. Kemampuan bertindak dan mengambil keputusan tanpa bantuan orang lain hanya mungkin dimiliki oleh orang yang mampu berpikir dengan seksama tentang tindakannya (Basri, 2000), demikian halnya dalam pemecahan masalah. Hal tersebut menunjukkan kemampuan kognitif yang dimiliki berpengaruh terhadap pencapaian kemandirian remaja.

 

2.         Pola Asuh Orang Tua dalam Keluarga

Lingkungan keluarga berperan penting dalam penanaman nilai-nilai pada diri seorang remaja, termasuk nilai kemandirian. Penanaman nilai kemandirian tersebut tidak lepas dari peran orang tua dan pengasuhan yang diberikan orang tua terhadap anak. Bila seorang anak sejak kecil sudah dilatih untuk mandiri maka ketika ia harus keluar dari asuhan orang tuanya untuk hidup mandiri ia tidak akan merasa kesulitan (Prawironoto, 1994:59-74). Pengaruh keluarga terhadap kemandirian remaja terkait dengan peranan orang tua. Dalam hal ini ayah dan ibu mempunyai peran nyata seperti yang dinyatakan Partowisasto (1983:96-97) berikut : Bila karena rasa kasih sayang dan rasa kuatirnya seorang ibu tidak berani melepaskan anaknya untuk berdiri sendiri menjadikan anak tersebut harus selalu ditolong, terlalu terikat pada ibu karena dimanjakan, tidak dapat menyesuaikan diri dan perkembangan wataknya mengarah pada keragu-raguan. Sikap ayah yang keras menjadikan anak kehilangan rasa percaya diri sementara pemanjaan dari ayah menjadikan anak kurang berani menghadapi masyarakat luas. Pengasuhan yang diberikan orang tua juga turut membentuk kemandirian seseorang. Toleransi yang berlebihan, pemeliharaan berlebihan dan orang tua yang terlalu keras kepada anak menghambat pencapaian kemandiriannya (Prasetyo & Sutoyo, 1989:61-67). Sementara Alwisol (2004:105-106) menyatakan bahwa pemanjaan yang berlebihan dan pengabaian orang tua terhadap anak mengakibatkan terhambatnya kemandirian anak.

5.         Tips mendidik anak untuk mandiri

Salah satu tugas orang tua adalah mendidik anak agar menjadi mandiri. Sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil: memakai pakaian sendiri, memasang tali sepatu, memakai kaos kaki dan berbagai pekerjaan kecil lainnya. Kedengarannya mudah, namun dalam prakteknya pembiasaan ini banyak hambatannya. Tidak jarang orang tua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil yang berusaha menalikan sepatunya selama beberapa menit, namun belum juga memperlihatkan keberhasilan. Atau langsung memberi segudang nasehat, lengkap dengan cara pemecahan yang harus dilakukan, ketika anak selesai menceritakan pertengkarannya dengan teman sebangku.

Memang masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat dengan mudah diatasi dengan adanya campur tangan orang tua. Namun cara ini tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan terbiasa “lari” kepada orang tua apabila menghadapi persoalan, dengan perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Lalu upaya apa yang dapat dilakukan orang tua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan?

Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda terapkan untuk melatih anak menjadi mandiri antara lain :

 

1.         Beri kesempatan memilih.

Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain, akan malas untuk melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilih anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya, misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan - keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya.

 

2.         Hargailah usahanya.

Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orang tua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya. Terutama bila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya otang tua memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa untuk membuka kaleng akan lebih mudah kalau menggunakan ujung sendok, misalnya. Kesempatan yang anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.

 

3.         Hindari banyak bertanya :

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang tua , yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru kembali dari sekolah, akan kesal bila diserang dengan pertanyaan - pertanyaan seperti, “Belajar apa saja di sekolah?”, dan “Kenapa seragamnya kotor? Pasti kamu berkelahi lagi di sekolah!” dan seterusnya. Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek : “Halo anak ibu sudah pulang sekolah!” Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus di dorong-dorong.


4.         Jangan langsung menjawab pertanyaan.

         Meskipun salah tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatan ini akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu pemecahan masalah. Misalnya, “Bu, kenapa sih, kita harus mandi dua kali sehari?”. Biarkan anak memberi beberapa jawaban sesuai dengan apa yang ia ketahui. Dengan demikianpun anak terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orang tua, yang  akan diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.

5.         Dorong untuk melihat alternatif.

           Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk nmengatasi suatu masalah , orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong, untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Dengan demikian anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri . Misalnya, ketika si anak datang pada orang tua dan mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai. Anda dapat memberi jawaban : “Coba,ya, nanti kita periksa ke bengkel sepeda.”

 

6.         Jangan patahkan semangatnya

       Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “mustahil” terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukanya. Jangan sekali-kali anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta ijin Anda, “Bu, Andi mau pulang sekolah ikut mobil antar jemput, bolehkan? ” Tindakan untuk menjawab : “Wah, kalau Andi mau naik mobil antar jemput, kan Andi harus bangun pagi dan sampai di rumah lebih siang. Lebih baik tidak usah deh, ya” seperti itu tentunya akan membuat anak kehilangan motivasi untuk mandiri. Sebaiknya ibu berkata “Andi mau naik mobil antar jemput? Wah, kedengarannya menyenangkan, ya. Coba Andi ceritakan pada ibu kenapa andi mau naik mobil antar jemput.” Dengan cara ini, paling tidak anak mengetahui bahwa orang tua sebenarnya mendukung untuk bersikap mandiri. Meskipun akhirnya, dengan alasan-alasan yang Anda ajukan, keinginannya tersebut belum dapat di penuhi.

 

SELAMAT MENCOBA !