MENGATASI ANAK HIPERAKTIF

 

Oleh : Lembaga Perawatan Psikologi

Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian kepada sesuatu hal.

Hiperaktif merupakan turunan dari Attention Deficit hyperactivity disorder atau ADHD. Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada sistem saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Ada juga penyebab lainnya, yakni: temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak serta epilepsy. Bisa juga kondisi gangguan di kepala, seperti gegar otak, trauma kepala Karena persalinan sulit atau pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan.

Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku anak, yaitu inatensi, hiperaktif dan impulsif.

INATENSI

Inatensi atau tidak dapat memusatkan perhatian dilihat dari kegagalan anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.

HIPERAKTIF

Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan kesana kemari, bahkan memanjat-manjat. Disamping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.

IMPULSIF

Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/ melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan.

Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar, yaitu:

1.    Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan

2.    Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan

3.    Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktifitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Selain ketiga gejala diatas, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dala 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.

Problem di sekolah

Anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kecenderungan berbicara yang tinggi akan mengganggu anak dan teman yang diajak berbicara sehingga guru akan menyangka bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran.

Banyak dijumpai bahwa anak hiperaktif banyak mengalami kesulitan membaca, menulis, bahasa dan matematika. Khusus untuk menulis, anak hiperaktif memiliki keterampilan motorik halus yang secara umum tidak sebaik anak biasa.

Problem di rumah

Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati. Selain itu, ia mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesehatan yang disebabkan faktor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia gampang emosional. Selain itu anak hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi. Hambatan-hambatan tersebut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak dipandang nakal dan tidak jarang mengalami penolakan baik dari keluarga maupun teman-temannya. Karena sering dibuat jengkel, orang tua sering memperlakukan anak secara kurang hangat. Orang tua kemudian banyak mengontrol anak, penuh pengawasan, banyak mengkritik, bahkan memberi hukuman. Reaksi anakpun menolak dan berontak. Akibatnya terjadi ketegangan antara orang tua dengan anak. Baik anak maupun orang tua menjadi stress, dan situasi rumahpun menjadi kurang nyaman. Akibatnya anak menjadi lebih mudah frustasi. Kegagalan bersosialisasi dimana-mana menumbuhkan konsep diri yang negatif. Anak akan merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu dan ditolak.

Problem berbicara

            Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi yang timbal balik. Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu merespon lawan bicara secara tepat.

Problem fisik

            Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak-anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari. Selain itu, tingginya tingkat aktifitas fisik anak juga beresiko tinggi untuk mengalami kecelakaan seperti terjatuh, terkilir dan sebagainya.

Tips mengatasi anak hiperaktif

Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif:

a.    Menerima kondisi anak. Inilah hal pertama dan terpenting yang perlu dilakukan orang tua. Bila sudah dapat menerima kondisi anak, orang tua akanlebih baik dalam melakukan penanganan selanjutnya. “Sadari bahwa anak bukan ingin seperti itu melainkan kondisi otaknya yang sudah demikian sehingga muncul perilaku yang kurang positif.

b.    Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas.

c.    Orang tua hendaknya mengenali kelebihan dan bakat yang dimiliki anak.

d.    Membantu anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

e.    Menggunakan teknik-teknik penglolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib)

f.     Memberikan disiplin yang konsisten dan selalu memonitor perilaku anak.

g.    Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktifitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya.

h.    Membangkitkan rasa percaya diri anak sehingga anak akan lebih leluasa dalam melakukan suatu aktifitas.

i.      Bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya.

j.      Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua, contohnya dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.

k.    Anak diberi kebebasan untuk mengekspresikan diri sesuai minatnya, dalam hal ini orang tua membantu untuk mengarahkan keinginannya.

l.      Orang tua penderitapun disarankan untuk tidak menyimpan permasalahnnya sendiri. Curhat pada seseorang yang dianggap bisa membantu, meski sekadar untuk mendengarkan cerita, sedikit banyak dapat meringankan beban masalah. “Curhat terkadang bisa menjadi sarana cooling down bagi orang tua sehingga tindakan yang dilakukan lebih lanjut bisa berjalan dengan lebih baik”.

m.   Kerja sama antara suami istri harus dijalan dengan baik agar anak dapat tertangani dengan baik. Akan sangat membantu bila anggota keluarga lain, seperti kakek-nenek atau kerabat lainnya memahami apa yang kita hadapi.

n.    Hal lain yang perlu penanganan segera adalah perilaku anak yang destruktif agar perilakunya lebih terarah. Untuk itu tentu diperlukan bantuan ahli seperti psikolog.

o.    Bila gangguan yang dialami tergolong parah, biasanya akan dilakukan terapi perilaku, seperti terapi psikososial, educational therapy, occasional therapy, dan psikoterapi. Dalam terapi seperti itu anak akan diajarkan perilaku mana yang boleh dan tidak boleh. Obat-obatan sedapat mungkin dihindari karena memiliki efek samping, seperti mengantuk, nafsu makan berkurang, sulit tidur, tik (semacam kedutan) nyeri perut, sakit kepala, cemas, perasaan tidak nyaman, serta menghambat kreatifitas.

p.    Untuk mengantisipasi gerakan-gerakan anak dengan gangguan  hiperaktifitas yang tidak bisa diam, sebaiknya ruangan untuk anak bermain dirancang sedemikian rupa agar tidak terlalu sempit serta tidak dipenuhi banyak barang dan pajangan. Hal ini untuk menhindari kejadian-kejadian yang tidak diharapkan, seperti anak terbentur, tersandung, atau bahkan memecahkan barang-barang berharga. Bila memang tersedia, halaman luas sangat baik untuk memberikan kebebasan bergerak bagi penderita.

Hal lain yang dapat dilakukan oleh para orang tua adalah dengan melakukan observasi sederhana seperti:

a.    Mendiagnosa secara pasti apakah seorang anak termasuk hiperaktif atau tidak, harus melalui pemeriksaan ahli seperti dokter atau psikolog. Namun, orang tua bisa melakukan prediksi melalui observasi sendiri. Ciri-ciri gangguan hiperaktif sebenarnya baru terdeteksi jelas saat anak berusia empat tahun atau di usia-usia awal sekolah. Namun, tak masalah bila orang tua sudah melakukan observasi sejak si kecil berusia batita.

b.    Jika orang tua memiliki kecurigaan si kecil mengalami gangguan hiperaktif, jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Sebaiknya amati terus perkembanganya dan bandingkan dengan anak sebayanya. “Sangat baik bila kita berkonsultasi pada psikolog anak. Kalau didiamkan, anak dengan gangguan hiperaktif bisa tumbuh menjadi pribadi yang cepat bosan, jenuh, pencemas, tidak pernah menyelesaikan tugas, antisosial dan sebagainya.”

Anak yang lebih suka bergerak dan sepertinya tidak kehabisan energi, memerlukan banyak sekali media pembelajaran yang dapat memuaskan rasa ingin tahunya. Anak ini cepat sekali menangkap pelajaran dan dia ingin menambah lagi pelajaran yang lain.

Makanya orang tua sebaiknya menyediakan banyak sekali media belajar sambil bermain. Bukannya dia tidak fokus, tapi sebenarnya dia sudah menangkap pelajarannya. Dan ingin menambah yang lain lagi, yang lain lagi, dan yang lain lagi.