Oleh : Letkol Cku Eri Radityawara Hidayat

 

Pendahuluan

          Setiap personil militer di setiap Angkatan Bersenjata di dunia, tidak terkecuali anggota TNI AD, selama perjalanan karirnya, tentunya pernah mengikuti suatu kegiatan pemeriksaan psikologi, baik dalam rangka seleksi untuk pendidikan, penempatan, maupun konseling dan pengembangan diri. Namun demikian, sebagai suatu metoda yang berfungsi ganda, di lingkungan TNI AD, pemeriksaan psikologi, atau yang lebih dikenal sebagai psikotest, lebih dianggap sebagai alat seleksi untuk menentukan kelayakan seseorang dalam meniti karir militer yang lebih tinggi. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika pemeriksaan psikologi seringkali dianggap sebagai penghambat kemajuan karir seseorang. Hal ini tentunya tidaklah menguntungkan baik bagi Dispsiad sebagai pemangku kepentingan psikologi di lingkungan TNI AD, maupun bagi pengguna produk dan jasa psikologi di lingkungan TNI AD. Dalam konteks Hari Jadi Dispsiad ke 60, melalui tulisan yang mencoba untuk membahas sejarah dan penggunaan pemeriksaan psikologi di dunia militer pada umumnya, penulis berharap akan didapatkan suatu pemahaman yang lebih utuh tentang peran dan fungsi pemeriksaan psikologi di lingkungan militer pada umumnya, dan TNI AD pada khususnya.

 

Psikologi untuk Seleksi Militer – Era Perang Dunia ke I

Test psikologi yang kita kenal saat ini, sebenarnya telah memiliki sejarah yang amat panjang. Adalah James Cattell, yang mendapatkan gelar Doktor Psikometrik di tahun 1886 dari Universitas Leipzig, Jerman, di bawah bimbingan Wihelm Wundt yang dikenal sebagai bapak "Psikologi modern", yang pertama kali menyatakan perlunya dilakukan analisa statistik untuk melihat perbedaan kemampuan dari berbagai individu yang berbeda (Sokal, 1971). Untuk itu, di tahun 1890 an, Cattell yang telah menjadi profesor dan kepala departemen psikologi Universitas Columbia, mengusulkan pelaksanaan suatu "test mental," yang dilakukan berdasarkan prosedur yang terstandarisasi, dengan menggunakan norma-norma statistik, untuk mengukur kemampuan berpikir seseorang jika dibandingkan dengan orang lain (individual differences). Hal ini mengingat walaupun mungkin saja seorang pejabat administratif merasa mampu untuk memperbandingkan dan memilih seseorang untuk ditempatkan di suatu jabatan tertentu berdasarkan pengamatan tentang kinerjanya di masa lampu, akan menjadi sulit jika yang harus diperbandingkan dan dipilih jumlahnya mencapai puluhan atau bahkan ratusan, mengingat adanya keterbatasan kemampuan manusia untuk memperbandingkan lebih dari 3 (tiga) obyek yang berbeda (Halford dkk, 2005). Terlepas dari berbagai kelemahannya, suatu test yang terstandarisasi, terbukti lebih adil, lebih obyektif dan lebih akurat dalam memprediksi keberhasilan di masa depan jika dibandingkan dengan pertimbangan pribadi dari satu atau beberapa orang saja (Coon & Mitterer, 2007:384).

Ide Cattell tentang kegunaan psikotest yang terstandarisasi yang dapat dilakukan secara massal, teralisir saat Perang Dunia ke I, terutama di lingkungan militer Amerika Serikat. Pada saat itu, AD AS harus menyiapkan 180,000 orang prajurit per bulan, sehingga pimpinan AB AS kemudian meminta komunitas psikologi untuk memberikan kontribusinya bagi kepentingan militer AS (Uhlaner, 1977). Di bawah kepemimpinan Robert Yerkes, yang saat itu menjadi presiden dari American Psychological Associaton (APA), para psikolog ternama AS kemudian berkumpul di Universitas Harvard di tahun 1917 untuk merumuskan kontribusi yang dapat diberikan ilmu psikologi jika AS terseret ke dalam perang (Driskell & Olmstead, 1989). Yerkes memimpin Komite Metoda Pemeriksaan Psikologi Calon Prajurit (Committee on Methods for the Psychological Examination of Recruits), yang beranggotakan psikolog, sosiolog dan ahli statistik, dan kemudian melakukan seleksi sekaligus uji reliabilitas dan validitas dari alat test yang telah mereka siapkan, terhadap 4.000 orang calon anggota AD dan AL AS (Yerkes, 1918).

 

 

Sementara itu, di Eropa, Dr. Charles Myers, mantan pengajar psikologi eksperimental di Universitas Cambridge, direkrut oleh Korps Medis Angkatan Darat Kerajaan Inggris (Royal Army Medical Corps), untuk dijadikan sebagai kepala satuan psikologi AD Inggris di front Perancis (Pear, 1947). Selain bertanggung jawab atas proses seleksi terhadap prajurit Inggris yang akan disiapkan untuk menghancurkan kapal selam Jerman yang disebut dengan U-Boats, Myers juga menjadi ilmuwan pertama yang menyelidiki dampak psikologis perang terhadap kondisi psikologis prajurit (Howorth, 2000). Kondisi ini disebutnya sebagai shell-shock, atau yang sekarang dikenal sebagai Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Saat Perang Dunia ke II pecah, Myers diangkat menjadi anggota Komite Penasehat Seleksi Personel, Kantor Perang, Kerajaan Inggris (Advisory Committee on Personnel Selection, the War Office) (Bartlett, 1948).

 

Psikologi untuk Seleksi Militer – Era Perang Dunia ke II

Kontribusi psikologi di dunia militer menjadi permanen ketika para psikolog yang bertugas di Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, dibawah bimbingan Profesor Lewis Terman dari Fakultas Psikologi Universitas Stanford, kemudian mentransformasikan test kecerdasan Stanford-Binet, menjadi apa yang disebut dengan Army Alpha Test (bagi calon anggota dan anggota militer yang mampu baca-tulis) serta Army Beta Test (bagi mereka yang buta huruf dan tidak mampu berbahasa Inggris), dan kemudian menggunakannya untuk menyeleksi dan melakukan klasifikasi terhadap 1,700,000 prajurit Angkatan Darat AS yang disiapkan untuk Perang Dunia ke I (Melton, 1957; Uhlaner, 1977). Keberhasilan dari ke dua test tersebut, kemudian menciptakan persepsi di pimpinan AD AS tentang kegunaan psikologi sebagai ilmu yang bermanfaat, yang dapat memberikan hasil yang praktis dan tepat guna (Driskell & Olmstead, 1989).

Di tahun 1940, dalam rangka untuk menyiapkan prajurit AS dalam Perang Dunia ke II, Komite Klasifikasi Personel Militer (Committee on Classification of Military Personnel) didirikan dibawah Seksi Seleksi Personel Ajudan Jenderal AD AS (Adjutant General's Personnel Testing Section). Dibawah pimpinan Dr. Walter Bingham, mantan dosen Psikologi Industri di Universitas Chicago, yang ditunjuk sebagai Kepala Psikologi Adjudan Jenderal AD AS (Chief Psychologist, US Army Adjutant General Office), Komite ini kemudian mengembangkan Army General Classification Test (AGCT) untuk menggantikan test Alpha dan Beta, dan digunakan untuk menyeleksi dan mengklasifikasikan lebih dari 12,000,0000 orang prajurit, perwira serta marinir AS yang diterjunkan dalam Perang Dunia ke II (Harrell, 1992).

Era Perang Dunia ke II juga melahirkan metoda Assessment Center yang dipelopori oleh Office of Strategic Services (OSS), yang merupakan cikal bakal dari badan intelijen, Central Intelligence Agency (CIA) (Smith, 1972). OSS yang dipimpin oleh Kolonel William Donovan, seorang Perwira Intelijen AD AS, dan Letnan Kolonel Dr. Henry Murray, mantan Kepala Klinik Psikologi Universitas Harvard, memiliki tugas pokok untuk menyeleksi para calon perwira intelijen yang akan diterjunkan di garis belakang Jerman (MacKinnon, 1974). Program ini lahir karena test kecerdasan, minat dan bakat, yang dilakukan secara "paper and pencil," dirasakan kurang memadai untuk digunakan sebagai alat seleksi bagi para calon mata-mata, jika dilihat antara lain dari sisi kemampuan berinteraksi sosial di lingkungan budaya asing dimana mereka akan ditugaskan, kemampuan beradaptasi di bawah tekanan secara terus menerus, kemampuan memimpin dan memelihara moril anggota yang diterjunkan bersama-sama mereka, serta kemampuan menjaga rahasia di daerah berbahaya (OSS Assessment Staff, 1948).

Dengan para assessor yang memiliki latar belakang pendidikan sangat beragam, mulai dari psikologi dengan berbagai mazhabnya (dari psikologi klinis, psikologi binatang, psikologi industri dan organisasi, psikologi sosial, psikoterapis yang berorientasi pada psikoanalisa sampai psikoterapis yang anti psikoanalisa), psikiatri, sosiologi, antropologi budaya, serta disiplin ilmu perilaku lainnya, OSS menyelenggarakan kegiatan Assessment Center selama 3.5 hari (Handler, 2001). Para assessor ini disatukan oleh semangat untuk menciptakan simulasi-simulasi yang akan memungkinkan untuk menilai perilaku sebenarnya dari para kandidat dalam konteks penugasan dan budaya lokal yang menyerupai dengan kondisi dimana mereka nantinya akan diterjunkan. Dalam hal ini mereka sebenarnya mengadopsi dari kegiatan yang mirip dengan yang dilakukan oleh tentara Inggris (Wiggins, 1973). Ironisnya, Assessment Center yang diterapkan di Inggris sebenarnya mengadopsi penerapan dari program sejenis yang diciptakan oleh para psikolog Jerman untuk menyeleksi para calon mata-mata di era Perang Dunia ke I (Iles 1992).

Psikologi untuk Seleksi Militer – Era Paska Perang Dunia II

Setelah Perang Dunia usai, di tahun 1946, APA mendirikan Divisi 19, Psikologi Militer (Division 19 of Military Psychology), untuk menciptakan forum bagi para ilmuwan psikologi yang tertarik dalam bidang riset militer, serta dalam rangka untuk mendeskriminasikan penerapan teknik-teknik terkini dalam psikologi di lingkungan militer (Gade & Drucker, 2000). Di tahun 1959, 60 satuan militer AB AS yang bertanggung jawab atas seleksi prajurit mengorganisir suatu konferensi selama tiga hari di US Naval Examining Center, Great Lakes, Illiniois, dan kemudian mendeklarasikan berdirinya Military Testing Association (Wiskoff, 2008). MTA kemudian menjadi wadah bagi para psikolog militer untuk membahas perkembangan alat test dan metoda seleksi terkini di bidang militer. Di tahun 1972, satuan psikologi dibawah Ajudan Jenderal AD AS, divalidasi menjadi Institut Penelitian Ilmu-ilmu Perilaku dan Sosial AD (Army Research Institute for the Behavioral and Social Sciences - ARI), dan di tahun 1974, ARI menciptakan Armed Services Vocational Aptitude Battery (ASVAB), sebagai pengganti AGCT untuk seleksi dan klasifikasi prajurit ke berbagai jabatan militer (Zeidner & Drucker, 1983).

Di tahun 1993, dalam kongres MTA di Williamsburg, Virginia yang diselenggarakan oleh U.S. Coast Guard, dengan bergabungnya berbagai negara dari luar AS seperti Australia, Belgia, Kanada, Perancis, Belanda, Portugal, Spanyol, Inggris dan Jerman, maka nama MTA disetujui dirubah menjadi International Military Testing Association (IMTA), dan disepakati kongres IMTA di tahun 1994 diselenggarakan di Rotterdam, Belanda (European Members of IMTA, 1994). IMTA kemudian menjadi forum internasional bagi para psikolog militer untuk mendorong kerjasama dalam pertukaran prosedur, metoda dan instrumen yang digunakan untuk menilai dan menyeleksi personel militer, serta mempromosikan konsep penilaian personel militer sebagai suatu kegiatan ilmiah yang menjadi bagian dari manajemen personel militer modern, dan yang terpenting adalah mengenalkan alat test dari budaya diluar AS, yang sebelumnya amat dominan (Mitchell, 2000). Dalam sepuluh tahun terakhir ini, internasionalisasi IMTA semakin meluas dengan bergabungnya Polandia (1997), Singapura (1998), Swedia (2000), Swiss (2003), Kroasia (2004), Korea (2005), Indonesia (2007) dan Afrika Selatan (2008) (Wiskoff, 2008).

 

Psikologi untuk Pengembangan Kepemimpinan Militer

Selain untuk kepentingan seleksi, identifikasi dan pengembangan komptensi kepemimpinan adalah topik yang dominan dalam psikologi militer (Driskell & Olmstead, 1989). Bahkan dapat dikatakan, kebutuhan untuk mendapatkan para pemimpin militer potensial dengan segera di berbagai tingkatan organisasi di era Perang Dunia ke I dan II, telah menjadi pemicu dari lahirnya kajian-kajian kepemimpinan di berbagai fakultas psikologi, munculnya pakar-pakar kepemimpinan, serta didirikannya Departemen Psikologi Militer dan Kepemimpinan (Office of Military Psychology and Leadership) di Akademi Militer AS di West Point di tahun 1946, atas perintah langsung dari Kepala Staf AD AS Jenderal Dwight Eisenhower (Fitton, 1993).

Pengembangan kepemimpinan berbasis kompetensi perilaku di AB AS sebenarnya dimulai ketika US Air Force Aviation Psychology Research mempelajari perilaku kepemimpinan para pilot pesawat tempur pada saat Perang Dunia ke II, melalui teknik Critical Incident (Flanagan 1954). Kemudian, Bingham (1947) yang mempelajari laporan psikologis dan informasi biografis dari sekitar 13,000 perwira AB AS peserta program Assessment Center yang diselenggarakan oleh OSS, menggunakannya untuk merancang berbagai program pengembangan kepemimpinan. Di akhir 1990 an, ARI sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas penilaian dan seleksi kader-kader pemimpin AD AS, melahirkan Pusat Kepemimpinan AD (Center for Army Leadership), dan lembaga ini selanjutnya ditunjuk untuk mengembangkan doktrin dan model-model kepemimpinan yang dianggap paling sesuai bagi militer AS, salah satunya adalah model "Be-Know-Do," suatu model kepemimpinan yang paling populer yang dihasilkan oleh AD AS (Aude dkk., 2004; Hesselbein dkk., 2004; Horey dkk., 2004).

Di luar AS, di kongres IMTA ke 47 tahun 2005, yang diselenggarakan secara gabungan olehSingapore Armed Forces' Applied Behavioural Sciences Department dan SAF Centre of Leadership Development, anggota IMTA dari Australia, Kanada, Inggris, Korea, Selandia Baru, Singapura, yang juga menangani seleksi dan pengembangan kepemimpinan militer di negaranya masing-masing, sepakat untuk mendirikan International Military Leadership Association (IMLA) (Horn & MacIntyre, 2006). Sejak saat itu, IMLA melaksanakan pertemuan secara paralel dengan pelaksanaan IMTA, dan keanggotaannya bertambah dengan Belanda, Swiss dan Indonesia (2007) serta Amerika Serikat (2009), dan menjadi forum internasional untuk membahas secara akademis kemajuan di bidang doktrin, ilmu pengetahuan dan potensi penelitian yang terkait dengan kepemimpinan militer (Greener & Stouffer, 2009).

 

Kesimpulan

Belajar dari sejarah pemanfaatan pemeriksaan psikologi untuk seleksi dan pengembangan di lingkungan militer, maka menurut penulis ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dan dijadikan sebagai umpan balik bagi Dispsiad sebagai berikut:

·         Pemeriksaan psikologi yang dilakukan untuk menyeleksi personel militer telah mengalami proses uji validasi yang sangat panjang, lebih dari 120 tahun jika dihitung dari sejak era Cattell. Dispsiad seperti juga negara-negara lain anggota IMTA, sudah memanfaatkan alat test seperti Army Alpha, Beta, ASVAB, maupun metoda Assessment Center (Program Penilaian Kompetensi Jabatan – PPKJ), yang sudah disesuaikan dengan kondisi TNI. Alat-alat test dan metoda ini, telah digunakan terhadap ribuan bahkan jutaan testee, sehingga secara statistik memiliki tingkat keyakinan yang tinggi. Mengingat pada saat ini perkembangan alat test untuk seleksi prajurit berlangsung dengan sangat dinamis, Dispsiad perlu selalu beradaptasi dan mengikutinya. Dispsiad cukup beruntung karena pimpinan TNI AD mendukung keanggotaan Dispsiad di IMTA, yang secara umum dapat memberikan gambaran terkini tentang berbagai kemajuan di bidang alat test militer dan seleksi prajurit.

·         Mengingat psikologi adalah profesi yang dituntut untuk mempraktekan metoda, teknik dan prosedur yang berbasis ilmiah (scientific-practitioner), satuan psikologi terapan perlu bekerja sama dengan erat dengan dunia pendidikan tinggi. Universitas Columbia, Stanford, Harvard dan Cambridge yang telah disebutkan dalam tulisan ini, adalah universitas-universitas berbasis riset yang ternama di dunia. Oleh karena itu, agar tidak tertinggal dengan perkembangan yang ada di bidang psikologi dan manajemen personel modern, Dispsiad harus selalu bersedia untuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di Indonesia.

·         Dispsiad perlu menyelenggarakan program pengembangan paska penilaian (post assessment development program). Tanpa adanya program-program seperti ini, maka persepsi yang muncul tentang pemeriksaan psikologi sebagai alat pemotong karir seseorang akan tetap muncul. Seperti di AB negara lain, hasil pemeriksaan psikologi seharusnya hanya menjadi salah satu kriteria pemilihan yang ditetapkan oleh pimpinan. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa data hasil pemeriksaan psikologi, terutama yang dilaksanakan oleh suatu Assessment Center, harus dijadikan sebagai masukan untuk merancang berbagai program pengembangan kompetensi kepemimpinan (Assessment for Development Center). Menurut penulis, hal inilah yang selanjutnya perlu dikembangkan lebih lanjut oleh Dispsiad, sehingga personil AD, terutama di kalangan perwiranya, dapat merasakan langsung manfaat dari pemeriksaan psikologi, dan tidak semata-mata menjadi subyek pemeriksaan semata.

 

Dirgahayu Dinas Psikologi Angkatan Darat.

Penulis :

 

Letkol Cku Eri Radityawara Hidayat, adalah Kabag Rengar Setdispsiad. Menyelesaikan B.Sc. di Universitas Wisconsin, Madison, AS (1986), MBA di Universitas Pittsburgh, AS (1987), MHRMC di Universitas Sydney, Australia (2005), saat ini Kandidat Doktor Psikologi di Universitas Indonesia. Pendidikan militer yang pernah diikuti antara lain adalah Sepamilwa ABRI (1989/1990), Susreg Seskoad (2006), dan Netherlands Defence Course (2008).

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Aude, S., Mitchell, D. & Cordes, G. (2004).  Development and Validation of Leadership Assessment Instruments for United States Army Commanders, Staff Officers, and Non-Commissioned Officers (NCOs).Makalah yang dipresentasikan pada kongres International Military Testing Association, tanggal 26 – 28 Oktober 2004, di Directorate General Human Resources of the Belgian Defense Staff, Brussels, Belgia.

Bartlett, F. (1948). Charles Samuel Myers. 1873-1946. Obituary Notices of Fellows of the Royal Society. 5(16), 767-777.

Bingham, W. (1947). Military psychology in war and peace. Science, 106, 155-J60.

Driskell, J. & Olmstead, B. (1989). Psychology and the Military: Research applications and trends. American Psychologist, 44(I), 43-54.

European Members of IMTA (1994). Proceedings of the 36th Annual Conference of the International Military Testing Association, tanggal 27 – 27 Oktober 1994, di Rotterdam, Belanda.

Fitton, R. (1993). Development of Strategic-Level Leaders. Fort Lesley McNair, Washington, D.C.: The Industrial College of the Armed Forces, National Defense University.

Flanagan, J. (1954). The critical incident technique. Psychological Bulletin, 51(4), 327-358.

Gade, P. & Drucker, A. (2000). A history of Division 19 (Military Psychology). Washington, DC: American Psychological Association.

Greener, P. & Stouffer, J. (2009). Decision-making: International perspectives. Kingston, ON: Canadian Defence Academy Press.

Halford, G., Baker, R, McCredden, J. & Bain, J. (2005). How many variables can humans process? Psychological Science, 16 (1), 70–76.

Handler, L. (2001). Assessment of Men:Personality Assessment Goes to War by the Office of Strategic Services Assessment Staff. Journal of Personality Assessment, 76(3), 558–578.

Harrell, T. (1992). Some history of the Army General Classification Test. Journal of Applied Psychology, 77(6), 875-878.

Hesselbein, F., Shinseki, E. & Cavanagh, R.E. (2004). Be Know Do: Leadership the Army way.Adapted from the official Army leadership manual. San Fransisco:Jossey-Bass.

Horey, J., Fallesen, J., Morath, R., Cronin, B., Cassella, R., Franks, Jr., W. & Smith, J. (2004). Competency Based Future Leadership Requirements. Arlington, Virginia: United States Army Research Institute for the Behavioral and Social Sciences.

Horn, B. & MacIntyre, A. (2006). In pursuit of excellence: International perspectives of military leadership. Kingston, ON: Canadian Defence Academy Press.

Howorth, P. (2000). The treatment of shell-shock: Cognitive therapy before its time. The Psychiatrist, 24, 225-227.

Iles, P. (1992). Centres of excellence? Assessment and development centres, managerial competence, and human resource strategies. British Journal of Management, 3(2), 79-90.

MacKinnon, D. (1974). How assessment centers were started in the United States. Pittsburgh, PA: Development Dimensions International.

Melton, A. (1957). Military Psychology in the United States of America. American Psychologist, 12, 740-46.

Mitchell, J. (2000). IMTA 2000: Who are we, where are we, and where are we going?. Makalah yang dipresentasikan pada kongres International Military Testing Association, tanggal 7 – 9 November, 2000, di Defence Evaluation and Research Agency, Edinburgh, Inggris.

Office of Strategic Services Assessment Staff. (1948). Assessment of men. New York: Rinehart.

Pear, T. (1947). Charles-Samuel Myers: 1873-1946. American Journal of Psychology, 60(2), 289-296.

Smith, R. (1972). OSS: The secret history of America’s first central intelligence agency. Berkeley, CA: University of California Press.

Sokal, M. (1971). The unpublished autobiography of James McKeen Cattell. American Psychologist, 26 (7), 626–35.

Coon, D. & Mitterer, J. (2007). Introduction to psychology: Gateways to mind and behavior, 11th Edition. Belmont, CA: Thomson Higher Education.

Uhlaner, J. E. (1977). The research psychologist in the Army - l917 to 1977 (Report No. 1155). Washington, DC: U.S. Army Research Institute for the Behavioral and Social Sciences.

Wiggins, J. (1973). Personality and prediction: Principles of personality assessment. Reading, MA: Addison-Wesley.

Wiskoff, M. (2008). IMTA: Down Memory Lane. Makalah yang dipresentasikan pada kongres International Military Testing Association, tanggal 29 September – 3 Oktober 2008, di Netherlands' Defence Services Centre of Behavioural Sciences, Amsterdam, Belanda.

Yerkes, R. (1918). Psychology in relation to the war. Psychological Review, 25, 85-115.

Zeidner, J. & Drucker, A. (1983). Behavioral science in the Army: A corporate history of the Army Research Institute. Alexandria, VA: U.S. Army Research Institute for the Behavioral and Social Sciences.